SEBELUMNYA mari kita singkirkan dulu kutukan yang mengatakan bahwa hidup di Kalibuntu bakal buntu sesuai dengan nama yang tertanam di desa tersebut sejak dulu. Kemudian pelan-pelan kita tanyakan pada diri sendiri. Benarkah hidup di Kalibuntu bakal buntu?
Sudah? Sudah? Kalau sudah melakukannya mari bawa tubuhmu duduk atau rebahan untuk menikmati sajian kata yang akan dihidangkan buatmu. Karena, kemungkinan bisa saja terjadi dan kemungkinan lainnya juga harap dimaklumi.
Sementara itu kita telisik dulu nama Kalibuntu. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia setelah kita bagi jadi dua kata. Kali berarti sungai dan buntu berarti tertutup. Jadi, sesuai dengan kisah yang berembus; Kalibuntu berarti sungai yang tertutup alirannya. Ingat! Sungai yang tertutup alirannya, bukan pemikiran yang terhenti geraknya.
Acap kali kita suka menduga dan mengira bahwa mayoritas dan minoritas bakal jadi patokan untuk menentukan pergerakan kita jatuh pada kutukan yang selama ini dipercayai oleh mereka. Sebagaimana waktu, hidup ini bakal terus berputar, terus bergerak; jika terhenti tamatlah riwayatmu. Makanya aku tidak pernah setuju dengan ucapan mereka yang bilang bahwa hidup di desa Kalibuntu bakal buntu! Karena katanya, arah jalan Utara terhenti lautan, arah jalan ke Barat terhenti sungai, tapi bagaimana dengan arah jalan ke Timur dan Selatan? Bukankah masih ada jalan menuju kemungkinan?
Desa Kalibuntu dengan 8 ribuan penduduk yang hampir 9 ribu ini (menurut Catatan Sipil). Memang terletak di daerah pesisir. Hanya ada satu jalan utama (darat) untuk pergi menuju Desa lainnya atau ke kecamatan yang memang lebih banyak penduduk keluar-masuk. Dan di Kecamatan sendiri, kecamatan Kraksaan masih cukup dekat untuk kita tuju dengan sekitar 15 menitan pakai sepeda motor.
Terlepas dari itu, masyarakat Kalibuntu yang mayoritas penduduknya nelayan dan juga orang-orang tua yang kebanyakan buta huruf dan gaptek teknologi. Bukankah masih mungkin ada harapan bagi tunas baru yang lahir dari mereka akan memberi perubahan?
Bicara perihal nelayan, memang wajar karena Kalibuntu adalah desa pesisir dari kecamatan Kraksaan. Banyak dari warga mengantungkan mata pencarianya dari laut, lebih tepatnya Selat Madura. Mulai dari remaja putus sekolah, orang dewasa, serta dari desa seberang juga ikut melaut ke Kalibuntu demi kebutuhan keluarga.
Sebetulnya aku bangga dengan mereka yang masih meneruskan jejak nenek moyang dan terus berlangsung hingga kini. Sialnya, ada saja yang menganggap bahwa pekerjaan nelayan lebih rendah dari pekerja di daratan yang pergi pagi, pulang sore atau malam, atau sebaliknya. Pokoknya tidak kerja nelayan. Padahal pekerjaan nelayan sendiri adalah pekerjaan yang mulia, bukan?
Dan sialnya lagi, ada saja yang mengutuk hidup di Kalibuntu tak jauh dari jadi nelayan. Itu hanyalah pemikiran sempit yang tidak kamu lampaui untuk memilih jalan yang kamu mau. Bukankah sudah kita saksikan sendiri dari beberapa masyarakat kita, perlahan-lahan mulai merambah memilih jalan yang mereka inginkan, sudah ada yang jadi DPRD, jadi wirausahawan seperti layaknya di Kraksaan, merambah ke musik, jadi guru, tentara dan sebagainya. Masih mau bilang bahwa hidup di Kalibuntu bakal buntu?
Buntu yang seperti apa? Kembali lagi, itu tergantung pada gerak pemikiran yang belum mampu untuk merubah keadaan sekitar menjadi seperti yang diinginkan. Maka, tinggalkan pikiran yang membuatmu lemah, dan peganglah pikiran yang memberi kekuatan bagimu. ~Anonim.
Bicara perihal banyak orang-orang tua yang buta huruf dan mengabaikan pergerakan kita untuk maju, bahkan terkadang terbesit pembullyan atas hal baru yang kita sajikan. Itu hanya daya pikirmu yang telanjur menyerah dan menambah kutukan itu semakin bertambah kuat memenuhi otakmu hingga beranggapan untuk pergi dari desa lebih baik dan membangun kutukan baru di desa lainnya. Tunas baru terus tumbuh dan mungkin ke depannya sudah tidak ada lagi generasi yang buta huruf seperti orang-orang tua pada masanya.
Mahasiswa dari desa satu persatu hadir di tengah-tengah kita. Mulai dari Jurusan teknologi sampai hebatnya lagi ada yang Akper! Sangat jarang sekali kita temui remaja yang buta huruf, bukan?. Buku berserakan di mana-mana. Masihkah kita akan menambah kutukan itu semakin absurd saja?
Sarjana ada di tengah-tengah kita. Ada yang pergi dan sedikit sekali yang bertahan tapi tak memberi perubahan dengan pemikirannya. Aku tak mengerti; apakah mereka percaya dengan kutukan itu atau hanya menambah deretan sarjana yang (mungkin) tidak berguna bagi perubahan di desa dan tertimbun keadaan yang kamu anggap susah. Pun para remaja yang menimba ilmu ke sekolah negeri, terus bertambah dan terus! Sialnya keadaan sedang dalam wabah yang masih berkelanjutan. Tapi, sebelumnya, bukankah sudah lumayan melimpah remaja yang terus menimba ilmu ke yang lebih wah?, Bagi masyarakat Kalibuntu.
Lalu, apa lagi? Masih mau mengelak seperti mereka yang terus berkata: mau usaha ini sudah ada, usaha itu, ini-itu. Apakah hasil laut (dari nelayan Kalibuntu) masih belum mampu jadi ide baru dalam pemikiranmu?. Pekerjaan sulit, susah, dan..., Mari kita memplesetkan potongan kata dari Jalaluddin Rumi; lampaui gagasan sempitmu untuk berjuang bukan menyerah atas kutukan.
Jadi, mari kita singkirkan kutukan yang selama ini mengacau pikiranmu yang mengatakan bahwa; hidup di kalibuntu bakal buntu pemikiran kita. Kalibuntu hanya kisah sungai yang tertutup alirannya, bukan pemikiran yang terhenti geraknya. Maka, jadilah sosok pembaharu atas harapan yang baru.
Kalibuntu, 07 Maret 2021
Catatan :
- Penulis Emroni Sianturi
- Esai ini telah dimuat di kamianakpantai.com
0 Komentar