Musabab Puisi Tercipta
/1/
tak ada keajaiban di telunjukku
hingga langit terbelah membentang jalan
bila tangan lesu mengaduk isi ransel
sejenak aku pergi istirah ke tempat
yang sunyi, di sana kucipta puisi
sebagai jalan lain sembahyang ruhani
/2/
tak ada sayap di punggungku
sebagai nabi mikraj melintasi
batas burung burung terbang
juga tanpa tameng di tanganku
sebagai sahabat kahfi sembunyi
dari tahun tahun ancaman
hanya setetes embun dari
lekuk huruf dalam samudera
kalammu yang kupunya
dalam sunya semesta aku olah
menjadi bunyi yang sunyi
/3/
tak ada apa apa selain kata
kata satu satunya
bekal manusia pertama turun
ke dunia
kata adalah makhluk surga.
Himne bagi Leluhur
"dari tulang tulang berserakan
leluhurku membangun peradaban
dengan keberanian dan ilmu warisan
turun temurun mereka babat hutan"
orang laut, o, orang laut
bertapa di bawah angin
semedi di pucuk ombak
bila malam menghantam
diikatkan perahunya ke
karang, tafakkur di sunyi
gersang tanah moyang
titah tuhan, titah tuhan
tersurat dalam kalam
perjuangan diteruskan
orang laut, o, orang laut
berumah di tanah gersang
mengembara ke selatan
samapi wana buangan
kawin mawin lanjutan
keturunan, demi terjaganya
agama tuhan
--satu satunya tuhan
kitab dipiwulang, syariat
dan hakikat diperdalam
tintanya getah aren dan kenari
dituolis dari kedalaman sanubari
syair dan puja puji
dzikir dan lantunan ilahi
orang laut, o, orang laut
dengan keberanian
keris di tangan, tauhid di hati
kerja sehari hari, thariqat
pembebasan diri
di hutan membangun kehidupan
rumah rumbia atau panggung
di atas trembesi, macan dan ular
jinak karena perintah hati
padepokan didirikan
sullam safina kalam pembukaan
surau sederhana penjaga yang lima
tetangga berdatangan
jadi kampung satu ikatan
orang hutan, o, orang pedalaman
baca qulhu penangkal setan
jin dedemit suka gentanyangan
ingat manusia diciptakan
satu tungkat lebih sempurna
kezaliman dan dosa
membuat kita jadi hina
dengan tasbih benteng diri
setan parahyangan tunggang lari
dengan istighfar membekal diri
noda dan dosa jadi terkendali
orang seberang, o, bujuk
yang bertandang
dengan doa songai rajeh
(doa tak tertulis)
tak boleh dibaca sembarang
bujuk jemong kuburannya
jadi perdebatan. bujuk semen
berbaring tenang
dengan nisan tanpa nama kenang
dan nyai arsidhi habiskan
umur untuk mengarang
--sebagai pohon ketapang
yang menjulang siang malam
leluhur, o, leluhur
di hening hutan buangan
menitiskan darah keturunan*
*) Musabab Puisi Tercipta dan Himne bagi Leluhur diambil dari buku kumpulan puisi yang berjudul, Api Kata (Basabasi, 2017)
Kim Al Ghozali AM, lahir di Probolinggo, 12 Desember 1991. Masa kecilnya dihabiskan di daerah pegunungan Probolinggo, lalu pindah ke kota Probolinggo di kala remaja. Saat usia remaja akhir ia pindah ke Denpasar, dan memulai proses kreatifnya di sana, bersentuhan dengan para sastrawan di Bali. Ia juga sempat tinggal di Jakarta, kemudian memilih menetap di Surabaya sampai sekarang. Baginya, latar kota-kota yang pernah ia tempati ini punya pengaruh kuat terhadap prosesnya berpuisi. Buku kumpulan puisi terbarunya Rock Alternatif di Telinga Kirimu.


0 Komentar