Pabean Cantian Pertama
Dua malaikat buta membawa segenggam
tanah gersang, menaburkan abu setengah matang
ke dua lubang kepalamu, mencipta tugu dan seratus
mercusuar yang lunglai, dan pintu gerbang
di setiap jalan telah menutup diri,
cahaya meledakkan batu-batu di kaki pasukan
berkuda yang beranjak ke selatan, menghindari
hari dengan mulut besi dan bergigi mantera.
(Sby, 2020)
Pabean Cantian Kedua
Selintas bayang kematian ular di cermin mawar,
doa-doa membujukmu di pagi yang membangkitkan
rumah-rumah dari tanah, pohonan muncul lewat
suara subuh yang lancip, lalu orang-orang bertanya
arah pelabuhan, tapi jalanan kini telah dibakar api
milik polisi, kembang hitam berpesta di koran pagi.
(Sby, 2020)
Pabean Cantian Ketiga
Cemasmu meleleh, membangkitkan roh yang tidur
di pinggir kali. Seribu tangan menggaruk aspal,
membentuk tanda bagi pengembaraan
ransel yang tergantung pinggir jendela.
Sepi selalu menunggumu di perempatan jalan,
berbaju hitam, mengenalkan salib di dahinya,
tapi nyanyi kereta pagi selalu menjeratmu,
menghempaskanmu ke lintasan tak berpalang.
(Sby, 2020)
Pabean Cantian Keempat
Satu juta kepala muncul dari matahari pagi,
melayang sepanjang jalan dan sungai yang banal,
meraih kembali tangan mereka yang tanggal di
gedung dan ruang yang melahap tidur siang.
Tangan-tangan kembali mencipta besi dalam angin,
konstruksi dalam nyala api yang tersalur dari
lubang pipa liang kuburan. Sejuta kepala dengan
raut muka pucat, dengan mata yang meneteskan
cairan tembaga.
(Sby, 2020)
Pabean Cantian Kelima
Tangisku telah pergi, meninggalkan jejaknya di
jendela yang terbuka pukul 2
bayangku pecah dalam riuh perlintasan kereta
saat pintu air perlahan tertutup
keluhku dari masa lalu bawah batu
beranjak, menebar warna hitam
sepanjang jalan yang dilalui matahari tidur,
orang-orang meluncur menuju waktu yang
melangkah mundur, dengan mata dipunggung
dan tangan berdarah dada-dada pada
jejak tangisku yang paling samar.
(Sby, 2020)*
Kim Al Ghozali AM, lahir di Probolinggo, 12 Desember 1991. Masa kecilnya dihabiskan di daerah pegunungan Probolinggo, lalu pindah ke kota Probolinggo di kala remaja. Saat usia remaja akhir ia pindah ke Denpasar, dan memulai proses kreatifnya di sana, bersentuhan dengan para sastrawan di Bali. Ia juga sempat tinggal di Jakarta, kemudian memilih menetap di Surabaya sampai sekarang. Baginya, latar kota-kota yang pernah ia tempati ini punya pengaruh kuat terhadap prosesnya berpuisi. Buku kumpulan puisi terbarunya Rock Alternatif di Telinga Kirimu.


0 Komentar