: messi
seharusnya gawang itu tak ada
dan tak mesti kupanggul salibmu
tapi mereka terus menguduskan namaku
di antara para suci
messi(ah)!
dari rosario ke camp nou
dari jerman ke rusia
mengekalkannya sebagai doa yang keras hati
sepakbola hanya sebuah litani;
tapi di titik ini, 12 langkah dari kecemasan,
aku terjatuh lebih dari tiga kali
menelusuri kembali deritamu
sepanjang kalvari
mungkin mereka lupa
para santo juga pendoa yang kerap sangsi
setelah maradona jadi tuhan
barangkali tak ada lagi kisah penebusan
atau (memang) tak pernah ada
Yogyakarta, Juli 2018
: gareth southgate
kau tahu, tak pernah kumaafkan
kesialan 22 tahun silam
di bawah kubah wembley yang suci
justru karena tulus kuterima
setiap belasungkawa pun cacimaki!
tapi adu penalti bukan adu nasib
kendati diabadikannya peruntungan
yang buntung bagi inggris,
kendati mesti kudekap jua
kesunyian itu seorang diri
maka di sini, di pinggir lapangan ini
aku masihlah bayang-bayang kekalahanmu
yang coba mematahkan setiap kutuk
di hadapan para penjaga soliter
demi tuhan yang mengasihi ratu,
dan sepakbola yang harus dilahirkan kembali
Yogyakarta, Juli 2018
untuk xhaka dan shaqiri
tanah air adalah tempat
yang harus ditinggal pergi,
di mana langit rekah dan tuhan raib
di tengah dentum mortir
tapi dikenangnya juga sepetak
pekarangan kecil yang riang itu
sebelum para tetangga menggali-gali
cinta di reruntuhan, dan sepotong lutut
tergeletak di bekas halte
tanah air adalah di mana ia
bisa berlari-lari, menggiring bola
tanpa takut kehilangan kaki
langit tampak cerah bersih, dan lapangan
luas terhampar dengan rumput sehijau puisi
sejak itu setiap stadion adalah rumah
yang menanti, dengan kampung halaman
selamanya bersemayam di hati
dengan bayangan karat jeruji bui,
roti basi, sepatu usang dan grafiti
yang ia jahitkan pula pada tumit sepatu barunya
kala menjebol gawang si pembantai kemarin pagi
selalu ia tahu, ke mana mesti pulang
untuk menjenguk pekarangan yang hilang itu
lantas mensyukurinya lewat selebrasi
Yogyakarta, Juli 2018
—marouane fellaini—
sebab pahlawan sejati
adalah anomali
dari berita sehari-hari
dari dunia berwarna-warni
dari hidup yang keras ini
karena itu ia pun menjelma jadi
si buruk yang (tampak) iri dengki
dalam laga-laga meradang
kemarin atau besok lagi
sampai kelak orang-orang
mengisahkan kembali riwayatnya
yang tak pernah putih
bukanlah semata gol gemilang
atau kejayaan trofi, atau
demi sebuah gawang
yang mesti dijaga lebih ketat
dari harga diri
namun untuk laga itu sendiri:
yang bakal kekal sebagai cerita
selepas pluit penghabisan berbunyi,
setelah nanti tribun menyepi
lantaran tak lagi ia percaya
dongeng si baik budi
juga ampunan yang tiba telat
seusai kekalahan perih
bukankah pahlawan sejati pun
seringkali adalah si laknat
yang tertunda
dalam keagungan stadion ini
Yogyakarta, Juli 2018
—stadion maksimir, sabtu 13 mei 1990—
mereka bilang tendanganmu
telah meledakkan perang balkan
tapi kau tahu kemarahan telah lama
membakar kota-kota sebelum akhir pekan
mereka bilang tendanganmu
mengoyak peta merekahkan tanah
tapi kau tahu delije telah lama
memenuhi stadion dengan kebencian
mereka bilang tendanganmu
merobohkan tiang bendera yugoslavia
tapi kau tahu tak ada lagi cinta
selepas josef tito dimakamkan
mereka bilang tendanganmu
adalah alarm kemerdekaan kroasia
tapi kau tahu hidup bersama telah lama
menjadi sebuah kemusykilan
mereka bilang tendanganmu
adalah tendangan seorang pahlawan
tapi kau tahu nasionalisme
hanyalah asa akan keadilan
tatkala hari itu sepakbola
berhenti dimainkan
Yogyakarta, Juli 2018*
*)Sunlie Thomas Alexander yang memiliki nama lahir Tang Shunli (æ¹¯é †åˆ©) (lahir 7 Juni 1977) adalah penulis berkebangsaan Indonesia keturunan Tionghoa. Tahun 2019, esainya yang berjudul “Bualan Warto Kemplung, Cerita Bersambung Mustofa Abdul Wahab” terpilih sebagai pemenang pertama Sayembara Kritik Sastra Dewan Kesenian Jakarta. Tahun 2020, bukunya yang berjudul Dari Belinyu ke Jalan Lain ke Rumbuk Randu menerima Penghargaan Sastra Badan Bahasa 2020 untuk kategori esai/kritik sastra. Tahun 2022, karyanya yang berjudul "Keluarga Kudus" terpilih sebagai Cerpen Terbaik Kompas 2021.
Catatan =
1. Kelima Puisi karya Sunlie Thomas Alexander dikutip dari postingan Facebook pribadinya. Dan puisi tersebut pernah disiarkan di Kompas, Agustus 2018
2. Ilustrasi gambar diambil dari postingan Facebook Sunlie Thomas Alexander dan foto penulis bersumber dari Wikipedia
3. Profil penulis bersumber dari Wikipedia.


0 Komentar