Puisi-puisi Sepak Bola - Sunlie Thomas Alexander

 


PENALTI (1)
: messi


seharusnya gawang itu tak ada

dan tak mesti kupanggul salibmu 

ke titik putih
 

tapi mereka terus menguduskan namaku

di antara para suci


messi(ah)!

messi(ah)!


dari rosario ke camp nou

dari jerman ke rusia


mengekalkannya sebagai doa yang keras hati

sepakbola hanya sebuah litani; 

tapi di titik ini, 12 langkah dari kecemasan, 

     aku terjatuh lebih dari tiga kali


menelusuri kembali deritamu 

sepanjang kalvari


mungkin mereka lupa 

para santo juga pendoa yang kerap sangsi


setelah maradona jadi tuhan

barangkali tak ada lagi kisah penebusan


atau (memang) tak pernah ada 
kisah penebusan

Yogyakarta, Juli 2018


PENALTI (2)
: gareth southgate


kau tahu, tak pernah kumaafkan

kesialan 22 tahun silam


di bawah kubah wembley yang suci

justru karena tulus kuterima

setiap belasungkawa pun cacimaki! 


tapi adu penalti bukan adu nasib

kendati diabadikannya peruntungan 

yang buntung bagi inggris,

kendati mesti kudekap jua

     kesunyian itu seorang diri


maka di sini, di pinggir lapangan ini

aku masihlah bayang-bayang kekalahanmu

yang coba mematahkan setiap kutuk


di hadapan para penjaga soliter

demi tuhan yang mengasihi ratu, 

dan sepakbola yang harus dilahirkan kembali


Yogyakarta, Juli 2018


SETELAH KOSOVO
    untuk xhaka dan shaqiri


tanah air adalah tempat 

yang harus ditinggal pergi,


     di mana langit rekah dan tuhan raib

     di tengah dentum mortir


tapi dikenangnya juga sepetak 

pekarangan kecil yang riang itu


sebelum para tetangga menggali-gali 

cinta di reruntuhan, dan sepotong lutut

     tergeletak di bekas halte


tanah air adalah di mana ia 

bisa berlari-lari, menggiring bola

tanpa takut kehilangan kaki 


langit tampak cerah bersih, dan lapangan

luas terhampar dengan rumput sehijau puisi


sejak itu setiap stadion adalah rumah

yang menanti, dengan kampung halaman

selamanya bersemayam di hati 


dengan bayangan karat jeruji bui, 

roti basi, sepatu usang dan grafiti


yang ia jahitkan pula pada tumit sepatu barunya

kala menjebol gawang si pembantai kemarin pagi


selalu ia tahu, ke mana mesti pulang

untuk menjenguk pekarangan yang hilang itu


lantas mensyukurinya lewat selebrasi


Yogyakarta, Juli 2018


EPOS SI TUKANG SIKUT
    —marouane fellaini—


sebab pahlawan sejati

adalah anomali


dari berita sehari-hari

dari dunia berwarna-warni

dari hidup yang keras ini


karena itu ia pun menjelma jadi

si buruk yang (tampak) iri dengki


dalam laga-laga meradang 

kemarin atau besok lagi


sampai kelak orang-orang 

mengisahkan kembali riwayatnya

     yang tak pernah putih


bukanlah semata gol gemilang

atau kejayaan trofi, atau


demi sebuah gawang 

yang mesti dijaga lebih ketat

dari harga diri


namun untuk laga itu sendiri:

yang bakal kekal sebagai cerita

selepas pluit penghabisan berbunyi,

setelah nanti tribun menyepi


lantaran tak lagi ia percaya

dongeng si baik budi

juga ampunan yang tiba telat

seusai kekalahan perih


bukankah pahlawan sejati pun

seringkali adalah si laknat 

     yang tertunda


dalam keagungan stadion ini


Yogyakarta, Juli 2018 


ZVONIMIR BOBAN
     —stadion maksimir, sabtu 13 mei 1990—


mereka bilang tendanganmu

telah meledakkan perang balkan 

tapi kau tahu kemarahan telah lama 

membakar kota-kota sebelum akhir pekan


mereka bilang tendanganmu

mengoyak peta merekahkan tanah

tapi kau tahu delije telah lama

memenuhi stadion dengan kebencian


mereka bilang tendanganmu

merobohkan tiang bendera yugoslavia

tapi kau tahu tak ada lagi cinta

selepas josef tito dimakamkan


mereka bilang tendanganmu

adalah alarm kemerdekaan kroasia 

tapi kau tahu hidup bersama telah lama

menjadi sebuah kemusykilan 


mereka bilang tendanganmu

adalah tendangan seorang pahlawan

tapi kau tahu nasionalisme 

hanyalah asa akan keadilan 


     tatkala hari itu sepakbola 

berhenti dimainkan


Yogyakarta, Juli 2018*


*)Sunlie Thomas Alexander yang memiliki nama lahir Tang Shunli (湯順利) (lahir 7 Juni 1977) adalah penulis berkebangsaan Indonesia keturunan Tionghoa. Tahun 2019, esainya yang berjudul “Bualan Warto Kemplung, Cerita Bersambung Mustofa Abdul Wahab” terpilih sebagai pemenang pertama Sayembara Kritik Sastra Dewan Kesenian Jakarta. Tahun 2020, bukunya yang berjudul Dari Belinyu ke Jalan Lain ke Rumbuk Randu menerima Penghargaan Sastra Badan Bahasa 2020 untuk kategori esai/kritik sastra. Tahun 2022, karyanya yang berjudul "Keluarga Kudus" terpilih sebagai Cerpen Terbaik Kompas 2021.


Catatan =

1. Kelima Puisi karya Sunlie Thomas Alexander dikutip dari postingan Facebook pribadinya. Dan puisi tersebut pernah disiarkan di Kompas, Agustus 2018

2. Ilustrasi gambar diambil dari postingan Facebook Sunlie Thomas Alexander dan foto penulis bersumber dari Wikipedia

3. Profil penulis bersumber dari Wikipedia.

Posting Komentar

0 Komentar