INI kali kedua saya berkunjung ke salah satu desa yang masih menganut kepercayaan lama. Seseorang yang belajar ilmu gaib, lantas keinginan hati tidak tercapai, maka hasilnya menimbulkan kecemasan bagi masyarakat sekitarnya. Semacam perwujudan makhluk halus dari perjanjian antara jin dengan manusia. Ada pula yang berkesimpulan lain, bahwa seseorang yang menjelma jenglot berawal dari seorang lelaki setia yang bekerja sepenuh hati demi keluarga yang dibina. Tapi, nasibnya malang. Istrinya yang cantik jelita bermain serong dengan Ayahnya yang seharusnya menjadi pagar bagi sebuah hubungan yang sakral, nyatanya malah menyantap kepercayaannya.
Berawal dari mimpi yang seolah nyata. Lelaki yang setia setelah mendengar desas-desus antara Ayah dan istrinya mulai bersiasat untuk mengetahui lebih jelas. Namun, mustahil untuk dipercaya sehingga membuat lelaki itu pergi dengan perasaan nelangsa sendirian di tengah hutan yang sunyi. Di sanalah lelaki berniat bunuh diri, tetapi tertahan oleh suara yang gaib. Kemudian ia berniat moksa tanpa ingin lagi mengenal dunia menurut cara pandangnya. Sungguh nelangsa lelaki yang setia itu, ia kembali mendapati pengkhianatan untuk kedua kalinya.
Di malam bulan purnama pertama, ia bersemedi terus-menerus ke bulan purnama kedua, ketiga, hingga ke yang sudah-sudah membuat badannya semakin menyusut menyerupai bayi dalam kandungan berusia 3-4 bulan. Ini semacam dongeng yang berkepanjangan yang terus-menerus diceritakan oleh masyarakat. Ditambah, saya mendengar cerita ini dari seorang kawan di desa Racek. Tentu saya tidak percaya. Di zaman serba digital, mana ada manusia yang meninggal mesti dijaga sampai 10 hari biar jasadnya tidak sampai dihisap darahnya atau dibawa oleh makhluk yang disebut jenglot?
Kali kedua saya ke rumah kawan saya. Saya sampai di rumahnya sekitar jam 8 pagi. Kawan saya tidak ada di rumahnya, kecuali istrinya dengan lembut membuka pintu rumahnya menyapa saya. Setelah dipersilahkan untuk masuk dengan hangat, tetapi saya memilih menunggu di halaman. Tak lama kemudian, kawan saya datang. Bajunya telah berdebu dan kotor, juga sarungnya yang bermotif kotak-kotak. Kawan saya yang bernama Ayus seperti biasa bila bertemu. Menyapa, berjabat tangan, lalu merangkul badan. Saya digiring ke ruang tamu.
"Kalau sekarang. Kamu pasti bakal percaya" katanya mantap. Saya mulai menerka-nerka maksudnya.
"Wajib nginep" Ayus kembali membuka percakapan, setelah ingatan yang berlalu pada kemarin lalu hadir di tengah kunjungan yang niatnya menuntaskan janji kemarin bila mendapat rezeki lebih dari hasil melaut.
"Oh iya. Jenglot ya?"
"Ya" Balasnya singkat.
Kemudian saya menelpon keluarga di rumah.
Karena rasa penasaran itulah saya mengiyakan ajakan kawan saya untuk menginap. Barang 1 atau 2 hari di rumahnya. Katanya lagi, menambahkan, saya mesti ikut serta menjaga kubur yang sudah ditandai dengan tenda. Semacam tenda perkemahan waktu Pramuka. Namun, tenda yang berjejak di satu kuburan itu terbuka. Sementara itu, kami akan berjaga bersama 2 warga lainnya yang mendapat tugas jaga malam dan paginya. Ini sesuai dengan kedatangan saya, yang bilamana pulangnya nanti tidak sampai pada waktu malam.
Di ruang tamu yang sederhana ini. Saya kembali menerka-nerka setiap yang dipandang mata. Beberapa potret keluarga dipajang di dinding. Salah satunya tergambar jelas dalam bingkai berukuran 12R & 16R. Kawan saya bersama istrinya tampak mesra, juga di samping kanannya tampak potret mertua lengkap sekeluarga, dan di samping kiri tentunya buah hatinya yang memenuhi satu bingkai foto. Sayabakal jatuh pada kerinduan bila terus-menerus hanyut dalam memandang potret keluarga, sampai mencoba menciptakan percakapan baru.
"Tak perlu khawatir. Kita saling menjaga" tandasnya
Sementara waktu kian berputar. Lalui detik, menit, dan jam. Hingga kumandang maghrib memberi pertanda. Waktunya telah tiba. Inilah giliran kami bersiap dan berangkat menuju tempat pemakaman umum di desa Racek. Di sana, sudah ada 2 warga yang lebih tua dari kami berdua. Barangkali inilah pertama kalinya saya jatuh pada rasa perasaan yang mudah terwujud.
"Kuburan?"
"Ya. Bermalam di kuburan..."
"Untung tidak sendirian!"
Bisik hati memompa denyut jantung dan mengantarkannya pada bibir. Terasa pelan sekali kata-kata yang keluar, sesuai dengan embusan angin malam ini. Hingga hampir larut malam, saya tak jua mendapati sesosok tubuh yang katanya menyerupai bayi dalam kandungan.
Saya kembali menuangkan kopi hitam buatan warga di samping tenda, meloloskan satu batang rokok, kemudian menyalakannya. Persis seperti lelaki tua yang menunggu. Namun, tak jua menuai hasil. Obrolan perlahan-lahan mulai panjang dan menjauh ke mana-mana. Kami kian akrab satu sama lain.
Dari kejauhan, salah seorang dari kami mendengar bunyi yang tak biasa. Semacam tikus yang bercericit, atau kucing hitam berlari menabrak ranting pohon yang patah dari dahan. Pak Ali terus berujar dan sepertinya menambahkan omongannya. Saya memilih diam, meski tak dapat dipungkiri keberanian saya tiba menciut. Sesekali bulu kuduk berdiri. Perasaan saya dibuat tak menentu. Hingga kumandang azan subuh meredakan segalanya tentang makhluk kecil itu.
Sambil menunggu beberapa warga untuk menggantikan kami bertugas. Saya kembali menyalakan sebatang rokok, meski sebelumnya telah menyantap kue kemasan dari rumah duka di tempat kami berjaga.
Dingin benar. Desa yang berada di kecamatan Tiris, memang tak dapat dipungkiri soal udara dini hari dan pepohonan yang beradu. Terasa sejuk dan memberi gigil, terutama bagi saya yang berasal dari pesisir. Dalam perjalanan pulang, saya mengikuti Ayus sekitar 3 meter dari belakang bersama pak Ali. Kami memulai percakapan tentang jenglot yang kapan hari menurut pak Ali membuat warga gaduh. Saya kembali penasaran. Bagaimana bisa sesosok makhluk yang katanya kecil saat dikejar salah satu warga dengan niatan menangkapnya secara utuh di tengah hari pula, kemudian si jenglot dengan ajaib mengubah tubuhnya menjadi lebih besar dan besar melebihi tubuh manusia? Ini tak masuk akal!
Saya berpisah dengan pak Ali di persimpangan jalan ke rumah Ayus, berniat menceritakan kepadanya. Tapi, tubuh saya seolah selembar daun yang baru dipetik beberapa jam lalu dari rantingnya. Karena seperti selembar daun, saya ingin segera jatuh dari ranting yang paling rendah pada tempat tidur.
Kraksaan, 18 Maret 2022*

0 Komentar