NYELETUK: Lebaran, Sound Horeg, dan Apa Dampaknya


"Sound horeg sering dibungkus sebagai hiburan rakyat, namun lupa bahwa tidak semua telinga sedang ingin bergembira. Di balik dentuman bass yang membanggakan, ada bayi yang terbangun, orang tua yang pusing, dan pekerja yang kehilangan waktu istirahatnya. Kebebasan berekspresi seharusnya berhenti ketika mulai merampas hak orang lain untuk tenang."

Aku tidak tahu apa yang pikirkan oleh saudara-saudara sekalian. Kenapa memilih menghadirkan Sound Horeg untuk memeriahkan hari lebaran?

Bila sound horeg ditampilkan di suatu tempat yang jauh dari pemukiman, misal tanah lapang atau lapangan sepakbola. Itu sesuai dengan cara hiburannya. Tapi bila sound horeg di dihadirkan di tiap-tiap dusun atau gang di komplek warga, ini sudah salah tempat.

Horeg atau biasa disebut dengan sound horeg adalah sebuah parade tata suara (sound system) dalam ukuran sangat besar yang berawal di Jawa Timur. Tidak hanya berukuran besar, sound system yang digunakan dalam horeg juga relatif menghasilkan suara yang tak kalah besar. Sound horeg biasanya cenderung mengembangkan frekuensi bas agar lingkungan sekitar bergetar(1).

Tahukah kalian bahwa sebelum menghadirkan sebuah hiburan, harus tahu tempat. Karna tidak semua hiburan itu benar menghibur, ada yang memiliki dampak yang perlu kita renung bersamaa; salah satunya sound horeg. Berikut dampak yang mungkin belum kita ketahui, di antaranya :

Dampak Bagi Kesehatan
1. Kerusakan pendengaran
Paparan suara di atas 85 dB dalam waktu lama bisa menyebabkan gangguan pendengaran permanen, tinnitus (telinga berdenging), bahkan tuli dini.
2. Stres & gangguan mental
Suara keras memicu stres, emosi mudah meledak, cemas, dan sulit konsentrasi.
3. Gangguan tidur
Terutama untuk lansia, bayi, dan orang sakit. Kurang tidur bisa berdampak ke imunitas dan kesehatan jangka panjang.
4. Dampak pada anak & bayi
Bisa mengganggu perkembangan saraf, fokus belajar, dan membuat anak mudah rewel.

Dampak Sosial & Lingkungan
1. Polusi suara
Mengganggu kenyamanan lingkungan, tempat ibadah, sekolah, dan rumah masyarakat.
2. Konflik sosial
Sering memicu cekcok antarwarga, laporan ke aparat, bahkan bentrokan.
3. Menurunkan kualitas hidup
Lingkungan jadi tidak kondusif untuk istirahat, bekerja, atau belajar.

Dan Dampak Budaya
Menggeser nilai kesopanan & toleransi. Hiburan satu pihak berubah jadi penderitaan pihak lain; nilai saling menghormati jadi luntur(2).

Sementara menurut kabar yang beredar pada bulan Agustus 2025, jumlah pasien THT di RSUD Dokter Haryoto Lumajang mengalami peningkatan dalam beberapa bulan terakhir, rata-rata mereka mengeluhkan gangguan telinga setelah menonton karnaval sound horeg(3).

Jika hiburan hanya dinikmati segelintir orang, sementara sisanya terpaksa menderita, maka itu bukan budaya, melainkan kebisingan yang dilegalkan oleh ego.

Kraksaan, Jan-Mar 2026(*)
 
 
Catatan lain:
1. Sumber tulisan Wikipedia 
2. Sumber tulisan internet 
3. Sumber Berita Detik dan Kompas

*) Penulis Emroni Sianturi, buku terbarunya Sebuah Pilihan)2022)

Posting Komentar

0 Komentar