Lemari Baru untuk Suna

 

SETELAH dengan mantap memutuskan untuk menerima kedatangan lemari baru yang tiba diimpikannya. Ia mulai meratapi bajunya yang kusut, roknya yang tampak mengkerut, serta celana dalamnya yang bolong ditempeli bekas kaos dari anak-anaknya yang tak terpakai di lemari yang lama. Perempuan itu bernama Suna. Pada lima tahun lalu ditinggal oleh kekasihnya dan menyambung hidup dengan dana bantuan Jasa Raharja bersama beberapa anaknya.

Anaknya yang pertama seorang lelaki. Tiga tahun setelah kepergian Bapaknya, ia dinikahkan oleh Suna dengan seorang santriwati dari Pondok Pesantren Tarbiyatul Akhlak selama 7 tahun mengabdi. Berselang 1 tahun kemudian, kebahagiaan datang menyelimuti Suna dengan hadirnya cucu perempuan dari anak pertamanya. Melihat cucunya yang tumbuh sehat, ditambah perawakannya yang anggun, Suna seolah bercermin melihat cucunya yang tersenyum padanya.

Setelah pernikahan anak pertamanya, Suna juga berhasrat mengulang kejadian yang serupa pada anak keduanya. Berselang 1 tahun dari pernikahan anak pertama, Suna kembali melamar seorang santriwati yang juga menimba ilmu di Pondok Pesantren Tarbiyatul Akhlak. Seolah putaran nasib menjadi serupa dengan menantu sebelumnya. Ia mengawinkan anak keduanya yang pada masa kecilnya pernah diasuh oleh orang lain, tetapi pada akhirnya kembali lagi mencium surga di telapak kakinya yang berdebu. Anak keduanya kemudian juga melahirkan buah hati, tetapi seorang anak laki-laki. Suna yang kembali diselimuti kebahagiaan, sempat menitikkan air mata saat menimang cucu dari anak keduanya. Kali ini ia bukan lagi bercermin, ingatannya bertabrakan dengan kenangan bersama kekasihnya.

"Lihatlah cucu kita, E...1" sembari menengadahkan wajahnya memandang langit-langit kamarnya yang disinari cahaya bohlam.

Barangkali dua anaknya yang tertua sedikit terlambat menikah ketimbang anak ketiganya yang juga laki-laki. Anak ketiga yang bernama Basri itu lebih dulu menikah dengan perempuan di desanya. Basri sudah memiliki 2 anak, keduanya perempuan. Beruntung pernikahan Basri masih sempat disaksikan oleh kedua orang tuanya yang masih lengkap, bahkan kedua anaknya masih dapat merasakan ditimang seorang lelaki yang bertubuh kekar, dipeluk-cium oleh almarhum.

Lima tahun telah berlalu, membuat Suna merasa ada yang tidak lengkap. Barangkali inilah yang dinamakan mengenang sesuatu yang kurang. Setiap kali membuka lemari, ia seperti di deru angin kenangan yang masuk dari celah-celah pintu rumahnya. Dalam lemari, ia tak lagi menemukan tumpukan baju dari ketiga anaknya yang memilih hidup bersama istrinya. Yang di dapat hanya kenangan sisa secarik baju bekas dari ketiga anaknya, ditambah beberapa baju istimewa dari kekasihnya.

Entah kenapa barulah menginjak 6 tahun kemudian. Suna tak dapat lagi menahan hasratnya untuk mendatangkan lemari baru, meskipun anak bungsunya belum menikah. Yang bungsu baru tamat SMA.  Dari keempat anaknya, cuma si bungsu saja yang berkelamin perempuan dan mulai mencari pekerjaan untuk membantu meringankan beban Ibunya. Sebab, tak mungkin menyandarkan hidup dengan dana bantuan yang terus-menerus dihabiskan tanpa berkeinginan untuk dijadikan modal usaha.

Akhirnya dengan mantap setelah mengumpulkan keempat anaknya. Suna mencurahkan isi hatinya, berniat mendatangkan lemari pemberian dari seorang lelaki yang 3 bulan lalu dikenalnya saat membeli ikan di pasar tak jauh dari rumahnya. Pertemuan kedua kekasih yang kesepian, bernasib sama, ditinggal teman hidupnya membuat keduanya menciptakan pertemuan rahasia yang tidak diketahui ketiga anaknya, kecuali anak bungsunya.

Sebagai perempuan yang berusia 48 tahun. Asmara yang tercipta dari pasangan Suna dan lelakinya yang bernama Jalal, seperti hubungan kekasih pada masanya. Meskipun keduanya dapat membaca secara gagap, tetapi untuk mengetik huruf-huruf agar terhimpun dalam ruang sms; mereka tidak bisa. Handphone jadul yang mereka pegang cuma digunakan sebatas telepon untuk bertemu di tempat yang dirahasiakan.

Sebagaimana semerbak parfum yang membias di badan. Wangi langkah Suna pada akhirnya tercium juga. Demi kebahagiaan sang Ibu, keempat anaknya sepakat untuk menerima lemari baru pemberian dari Jalal yang juga seorang nelayan pemilik sampan jaring. Maka beruntung baginya dapat menikah dengan Suna yang juga mantan istri dari seorang nelayan yang dapat menjahit jaring serta menjual hasil tangkapan.

 

 

BULAN bertemu bulan lagi. Terang dan redup cahaya adalah pertanda bagi nelayan untuk melayarkan harapan. Seperti dalam potongan lirik lagu dari Iwan Fals; Kemesraan ini, janganlah cepat berlalu. Tak ada yang menginginkan duka, setiap makhluk hidup tentunya inginkan bahagia.

Suna yang terlanjur menerima lemari baru, menerima dengan sepenuh hati; memindahkan lemari lama ke ruang belakang. Di ruang tidurnya, lemari baru cepat memudar warnanya. Perlu diindahkan kembali. Dompet keluarga yang awalnya terjaga dari dana bantuan, perlahan menyisakan tanda tanya? Jalal tidak seperti kekasihnya yang dulu. Sebagai nelayan pemilik sampan jaring, ia hanya melaut semaunya. Tidak terlalu peduli dengan isi lemari dan isi perut, toh ingatannya masih seperti pertama jumpa dengan Suna. Hubungannya bakal terjaga berkat bantuan dana.

Hari terus berganti dan berganti. Lalui Minggu, Bulan, hingga pada tahun yang tidak dikira anak bungsu dari Suna harus segera dinikahkan. Tanda-tanda yang terkutuk mulai tampak dari tubuhnya yang pucat pasi, dadanya yang terbelah, dan pada tiap langkahnya menuai gelisah.

Jalal juga gelisah menerima kabar di ruang keluarga barunya. Sebagai seorang lelaki, sekalipun Ayah tiri. Sudah selayaknya turut serta memberi. Ia mulai bersiasat sendiri. Kerap pulang pergi ke rumahnya yang kini hanya ditempati anak kandungnya.

Waktunya telah tiba. Resepsi ala kadarnya. Ruang pengantin dan orkes electone menjadi satu panggung. Hujan pun gagal turun. Kemenyan terus dibakar dan asap harapan mengudara ke angkasa. Para tamu undangan datang silih berganti sedari siang sampai malam. Sekitar jam 10 malam, resepsi sudah usai.

 

 

TIGA hari berselang, seluruh keluarga berkumpul di ruang tamu. Jalal, Suna, serta semua anak Suna lengkap dengan menantu, kecuali anak pertama yang datang belakangan membawa sebungkus makanan berisi 10 biji roti yang kemarin malam sudah dijampi-jampi atas tuduhan hilangnya uang sebesar 10 juta dari hasil resepsi. Saat bersama menyantap roti, salah satu menantu tak berhasrat untuk menghabiskannya, sedang Jalal terus-menerus mengunyah potongan roti ke dalam tubuhnya dengan bantuan air minum.

 

Kraksaan, 2022

Catatan:

  1. Penulis Emroni Sianturi
  2. E = Umumnya suami istri yang kelahiran 80.an di desa Kalibuntu memanggil pasangan mereka dengan sahutan E
  3. Cerita Pendek (Cerpen) ini telah dimuat di Jawa Pos Radar Bromo (Minggu, 29 Mei 2022)

Posting Komentar

0 Komentar