Kepada
kalian para pemuda dan pemudi, bagaimana jika pernyataan mereka yang lupa
bercermin pada diri sendiri, aku pantulkan kepada kalian?
Ini bukan yang pertama kali kita dengar, bahkan sebelum kita dengar pernyataan
itu, sudah lebih dulu suara yang kadang atau mungkin saja sempat mematahkan
semangat kita yang awalnya membara untuk membakar kemunafikan, kesenjangan,
atau apapun yang jadi resah kita.
"Yang muda tau apa?"
Bagaimana? Apa yang kamu rasakan, ketika mendengar kalimat itu? Ku rasa kamu
tidak bakal diam, meskipun berusaha untuk menahan dan tak melawan secara fisik
seperti yang mereka lakukan ketika tidak ada bahan balasan kata yang ajaib
untuk menyeimbangi pemikiranmu. Itulah sebabnya perbedaan diimbuhkan lantaran
muda dan tua sebagai alasan.
Yang muda tau apa? Hahaha. Ya, yang muda tau apa?. Lantas yang tua inginnya
apa?
Tenang, tenang, tak perlu kita balas pernyataan itu, pernyataan yang memang tak
perlu kita balas dengan kata yang mungkin nyaris sama, "Yang tua memang
bangka" tak perlu, ya, tak perlu.
Tapi entah kenapa saat dalam diam dan berangan di manapun ketika kita merenung.
Seringkali halusinasi memaparkan adegan yang dapat kita perankan diri kita
dengan baik sesuai keinginan. Dan setelah lama ngereka adegan, dan diakhir
cerita kadang kita bertanya pada bayang-bayang, "Adakah kesempatan untuk
membuktikan? Sebab yang tua mudah meremehkan."
Yang muda juga bisa!
Kalibuntu, 01 Agustus 2020
Catatan:
- Penulis, Emroni Sianturi
- Tulisan ini telah dimuat di kamianakpantai.com
- Ilustrasi gambar: Pixabay

0 Komentar