Sebelum Penciptaan
Sebelum penciptaan ini
ya nyata hanya
kekosongan dalam hujan
atau bayang tengah hari
bergerak mencari;
Sebelum penciptaan ini
sepasang tanda menyala
di kejauhan, bagai lentera
semenit menjelang padam.
Sebelum penciptaan ini
Tak ada jukstaposisi dan
metafora, tak ada reptil
menyembur dua bait dusta;
Hantu-hantu bertengkar
dalam pikiran, membaca
siapa bangkit dari
kubur pagi ini. Sebelum
yang tak ada menjadi
materi, bahasa terbujur
dalam peti, kelak berdiri
mengagumi diri sendiri;
Setelah penciptaan ini
yang menjelma hanya
epitaf bagi kekosongan.
Mungkin juga tanda
kita pernah bercinta.
Setelah Penciptaan
Aku kini mencipta
duniaku dari kata-kata.
Dengan campur air
mengalir dari
mimpi, aku mencipta
melalui tanganku
yang sembunyi.
Bahkan kucipta
keraguan-keraguan
dalam duniaku
yang lunak ini.
Aku mencipta objek
dalam presisi, atau
negasi dari aturan.
Dan hantu asindeton
di luar gramatika
sesudah kucipta hanya
sesuatu yang tak ada.
Tapi duniaku, mungkin
juga tak nyata ada
sebelum atau sesudah
aku ciptakan*
*) Sebelum Penciptaan dan Setelah Penciptaan diambil dari buku kumpulan puisi yang berjudul, Rock Alternatif di Telinga Kirimu (Pelangi Sastra, 2020)
Kim Al Ghozali AM, lahir di Probolinggo, 12 Desember 1991. Masa kecilnya dihabiskan di daerah pegunungan Probolinggo, lalu pindah ke kota Probolinggo di kala remaja. Saat usia remaja akhir ia pindah ke Denpasar, dan memulai proses kreatifnya di sana, bersentuhan dengan para sastrawan di Bali. Ia juga sempat tinggal di Jakarta, kemudian memilih menetap di Surabaya sampai sekarang. Baginya, latar kota-kota yang pernah ia tempati ini punya pengaruh kuat terhadap prosesnya berpuisi. Buku kumpulan puisi terbarunya Rock Alternatif di Telinga Kirimu.

0 Komentar