DI samping warung ibunya, di bawah pohon bidara, Ligi biasa dibiarkan berdiri. Sejak pagi sang ibu sibuk memasak dan melayani para tamu, sementara Ligi tak kalah sibuk, bercakap-cakap tentang apa saja walaupun tidak memiliki teman bermain.
"Cup-cup-cup, jangan nangis, nanti Mama belikan permen." ujar Ligi sambil menimang-nimang Juju, boneka kesayangannya. lalu suara kecil Ligi menciptakan suara Juju: "Mau permennya sekarang, mau permennya sekarang." Ligi tak bosan-bosan bermain boneka, dan kalau sudah capek ia akan tidur di samping boneka di atas tikar anyaman.
Pada awalnya Ligi sering menangis ketika ibunya sedang berjualan. Ia tidak akan membiarkan ibunya memasak dengan tenang sehingga seringkali ibunya baru bisa memasak ketika Ligi sudah tidur, atau justru terpaksa menggendong Ligi sambil memotong ayam, mencuci sayur, atau kegiatan lainnya. Lama-lama Ligi mengerti bahwa ibunya melakukan semua itu demi kehidupan yang lebih baik; agar nanti ibunya punya cukup uang untuk tinggal di rumah yang layak, membeli mainan, serta menyekolahkannya.
Setiap hari ibunya dengan sabar mengulang-ulang pesan tentang kenapa ia harus bekerja keras dan Ligi tidak boleh mengganggu. Akhirnya Ligi mengerti dan membangun dunianya sendiri.
Bila sudajh bosan bermain boneka ia akan bermain petak umpet. Ligi bersembunyi sedang Juju berjaga. Juju disuruhnya melipat kedua tangan lalu menempelkannya ke wajah, menutup mata, dan menghitung sambil menghadap pohon bidara. Ligi akan bersembunyi di belakang atau di samping warung ibunya. Ia paling gengsi masuk ke warung, dan hanya akan masuk kalau sedang lapar. Setelah lama "merasa" dicari.
Suatu hari di siang yang terik Ligi tiba-tiba kedatangan seekor biawak. Binatang itu memelet-meletkan lidah dan tidak berlari ketika mengetahui di sekitarnya ada seseorang anak. Mungkin biawak itu tidak takut sebab besar tubuh Ligi tak terlalu berbeda dibanding besar tubuhnya. Ligi penasaran pada biawak itu, lama-kelamaan ia bergerak mendekat sampai tepat di samping biawak.
“Hai, kamu tidak takut kepadaku? Aku juga tidak takut padamu,” Ligi dan binatang itu duduk berdampingan di bawah pohon. Mereka membicarakan banyak hal. Paling tidak itulah yang dirasakan Ligi.
“Aku dan ibuku akan punya rumah bagus seperti milik kami dulu. Di dalam kamar aku akan tidur bersama Juju. Tenang saja, ibuku orang baik. Kamu boleh sesekali berkunjung ke rumah kami. Kamu juga boleh menginap bila mau. Oh ya, tadi ibuku memberiku coklat, akan kubagi sedikit untukmu.” Ligi mengeluarkan sebatang coklat dari saku lalu menyodorkan sebatang kepada binatang itu. Sebenarnya Ligi tak berharap binatang itu mau menerima pemberiannya, tapi ketika biawak itu memakannya Ligi jadi senang. Ligi merasa bahwa penerimaan biawak atas coklat adalah tanda pertemanan sehingga ia makin berani kepada binatang itu. Ketika Ligi membelainya binatang itu tak melawan atau menghindar. Sekarang setelah Ligi bertemu biawak—teman barunya—ia tak ingin ibunya masuk ke dalam wilayahya; di bawah pohon bidara.
“Kamu tunggu di sini, aku mau makan dulu. Nanti kita main lagi. Jangan tinggalin aku ya. Dadaah.”
Ligi makan telur goreng dicampur kecap. Itu makanan kesukaannya. Ia tidak suka makan sayur, kecuali dipaksa, dan pemaksaan itu akan memakan waktu lama serta salalu diiringi tangis. Siang-siang seperti itu ibuinya tak mau repot-repot sebab itu adalah jam sibuk melayani pembeli. Biasanya ibunya baru akan memaksa Ligi makan sayur saat makan malam, kala warung sudah tutup, dan ia punya banyak waktu untuk anaknya.
Siang itu ibunya sempat heran melihat Ligi makan dengan lahap. Tidak hanya itu, Ligi juga tak mengajaknya bicara. Walaupun ibunya lega karena Ligi tak membuatnya repot, terbesit pula perasaan sedih. Apakah ia sudah tidak membutuhkan ibunya lagi? Tanpa pamit kepada ibunya, seusai makan, Ligi langsung menghambur keluar. Perasaan sedih ibunya semakin membesar, sebab Ligi biasanya akan bermanja-manja dengannya.
Sesampainya di bawah pohon biadara, Ligi merasa heran sebab tak menemukan biawak itu, padahal ia telah mempercepat makan dan buru-bur berlari ingin menemui teman barunya.
“Juju lihat Popo?’” Ligi bersandar di pohon sambil memeluk Juju. “Kenapa kamu tidak menahan Popo untu tetap di sini? Bahkan berempat, bersama Yuyu.” Ligi menunjuk pohon bidara dengan bibir yang dimonyongkan.
Esok harinya Ligi gembira sebab Popo datang lagi di jam yang sama dengan sebelumnya. Gadis kecil itu langsung menyodorkan pisang goreng kepada Popo dan binatang itu memakannya. Karena ingin bersandar, Ligi mengajak Popo mengikutinya ke samping pohon, tetapi rupanya Popo tak menanggapi sehingga langgsung menarik ekor Popo. Hanya sekian sentimeter saja Ligi berhasil menarik Popo sebelum tiba-tiba binatang itu menggeliat dan terlepas dari genggaman Ligi. Popo berjalan cepat namun tiba-tiba menghentikan langkahnya. Ligi mengalah dan duduk di samping Popo, mengambil serta Juju di atas tikar.
“Kalian jagan pernah tinggalkan aku, ya. Kalau kita semua sudah besar kita akan tetap bersama. Kita akan masuk TK bersama dan akan berbagi bekal. Popo, apakah kau berteman dengan ular, tikus, kecoa, dan monyet? Ajaklah mereka. Aku ingin punya teman sebanyak-banyaknya. Kalau kita punya banyak teman kita tidak akan bosan dam akan selalu gembira. Kalian semua akan selalu kubawakan makanan buatan Ibu. Ibu pernah berjanji kami akan punya rumah. Tetapi sekarang aku tak ingin punya rumah, aku senang tinggal di bawah pohon bersama kalian.”
Ketika mendengar suara ibunya memanggil, Ligi agak bingung apakah akan menemui ibunya atau tetap di tempat. Ia masih ingin bercerita dengan teman-temannya, tapi ia juga takut bila sang ibu menghampiri malah akan menakut-nakuti Popo, ia pasrah kalau Popo pergi. Toh, besok mereka akan bertemu lagi.
Malam harinya di kasur yang digelar di antara kursi dan meja di dalam warung, ibunya berkata: “Besok pasti kamu akan senang. Kita akan jalan-jalan ke kota. Ibu akan membelikan kembang gula dan baju baru yang dulu kamu inginkan.”
“Paling-paling besok nggak jadi lagi.”
“Kali ini jadi.”
“Hmm, tapi kalau nggak jadi nggak apa-apa. Aku senang bermain-main di awah pohon.”
“Sudah tidurlah, besok harus bangun pagi.”
Paginya Ligi terbangun sambil bersin-bersin, tidak biasanya dengan bau aneh dari asap kepulan pembakaran. Ligi langsung beranjak keluar dan melihat ibunya sedang membakar sesuatu.
“Ligi, lihat, akan ada tambahan bekal untuk kita. Teman pak Reya datang dari kota dan ingin makanan yang bisa membuat kuat.”
Asap dari pembakaran itu tersibak, lalu tampaklah seekor biawak utuh. Seketika Ligi berteriak lalu melompat dan menjambak ibunya.***
*) Di Bawah Pohon Bidara diambil dari buku kumpulan cerita pendek yang berjudul, Satu Keluarga Telah Lengkap (Basabasi, 2022)
Bulan Nurguna, lahir di Mataram, Lombok, 4 Juni 1990. Menyelesaikan pendidikan tinggi (S1) di Fakultas Ekonomi, Universitas Islam Indonesia (UII), Yogyakarta. Pernah memimpin Teater Koin di almamaternya. Menulis cerpen dan puisi di berbagai media massa, baik cetak maupun digital. Tahun 2021 diundang Bentara Budaya Bali untuk membacakan sajak-sajaknya. Saat ini ia mengelola Kedai Buku Klandestin


0 Komentar