STORI BAPAK: Benarkah Arti Kalibuntu Adalah Sungai yang Tertutup Alirannya?

 


Berawal dari komentar salah satu teman Facebook, yang juga masih saudara. Beliau menuturkan, "Sungai yang mana di Kalibuntu yang buntu? Aku saja dari dulu sampai sekarang tidak menemukan sungai di Kalibuntu ada yang buntu?" di dalam postingan foto profil saya. Tetiba saya larut dalam larut dalam keraguan, benarkah arti nama Kalibuntu adalah sungai yang tertutup alirannya?

Saya baru menyuarakannya di tahun 2021 dalam tulisan yang berjudul, "Benarkah Hidup di Kalibuntu Bakal Buntu?" Kata-kata itu secara otomatis saya dapatkan setelah mewawancarai sesepuh di desa, yang pada masanya masih terhubung dengan kepala desa pertama, yakni Bapak Singo.

Dalam wawancara itu, beliau menuturkan bersama ingatan masa lalunya bahwa di daerah makam itu ada aliran sungai dari arah selatan ke arah utara kurang lebih ke dusun Gilin. Kemudian berselang waktu (tanpa memastikan tahun) aliran sungai itu ditimbun dengan tanah. Maka terciptalah arti dari nama Kalibuntu adalah sungai yang tertimbun tanah. Meski sempat ada cerita lain juga bahwa nama Kalibuntu ingin diganti dengan "Kalibaru" oleh pemerintah, tapi masyarakat menolak dan tetap dengan nama semula, Kalibuntu.

Tak hanya dari hasil wawancara yang menghasilkan arti nama Kalibuntu. Sewaktu saya masih sekolah di MTS Nurul Islam di Kalibuntu, seorang guru yang mengajar pelajaran sejarah juga mengatakan hal yang sama dari arti nama Kalibuntu hingga saat ini. Saya pun kembali memulai obrolan dengan teman Facebook yang berkomentar pada postingan profil saya.

Menurut beliau, sejak lahir dan besar di Kalibuntu. Jalanan di antara sungai dan makam memang seperti itu adanya, lurus tanpa ada jembatan, atau penyangga, atau bekas jalan yang pernah terpotong. Sedangkan makam sendiri sudah ada sejak dulu dengan ukuran luas persegi. Memang ada sebuah aliran air di daerah makam, tapi bukan berarti itu adalah sungai yang mengalir sampai ke lautan. Bisa jadi itu hanya leke yang kemudian ditimbun tanah dan lahirnya arti yang menyebutkan bahwa Kalibuntu adalah sungai yang tertimbun tanah.

Dan tak selesai sampai di situ. Saya akhirnya menemui Bapak saya untuk membuka pintu utama dari tulisan ini yang nantinya semoga akan berkelanjutan dalam judul panjang sebagai pembuka "Stori Bapak" bersama saya.

Dalam obrolan ringkas bersama Bapak, lagi-lagi hasilnya menemui titik yang sama, juga cerita yang hampir serupa. Bahwa dahulu aliran sungai di desa Kalibuntu bercabang dua, yang satu lurus ke arah barat dan satunya lagi ke arah utara. Cuma bedanya kalau ke arah utara tak seluas aliran sungai pada umumnya. Masyarakat menyebutnya leke atau lekelian.

Narasi dari Bapak saya tak langsung disahkan begitu saja. Saya pun coba terjun kembali ke daerah makam dan sungai di Kalibuntu. Pada akhirnya saya menemukan jawaban itu. Di bawah tanah atau jalan yang biasa kita lewati setiap hari terdapat semacam lubang cukup lebar yang sudah tersumbat, serta sisa puing-puing yang menurut masyarakat disebut tempat leke-nya masih tersisa.

Apakah KAU ingin mengunjunginya juga, untuk mendapatkan yang sama atau pun berbeda, bahwa arti dari nama Kalibuntu adalah sungai yang tertutup alirannya? Aku akan menunggumu untuk menyempurnakan narasi yang hidup berkepanjangan ini.

 

Kalibuntu, 5-6 Januari 2023


*)Emroni Sianturi, penulis buku kumcer yang berjudul, Sebuah Pilihan

Posting Komentar

0 Komentar