Sebelum televisi semarak sekarang dan jadi hiburan bagi setiap kalangan. Ditambah smartphone yang ringan dalam genggaman, nonton film apapun jadi lebih mudah asal tersambung dengan jaringan.
Dulu, kata Bapak, sewaktu beliau masih remaja yang lebih sering main di sekitar pantai dengan barang seadanya dan pokoknya ada saja barang bekas atau yang ada di sekitarnya sudah dapat dijadikan mainan. Maka hiburan yang sederhana sudah bisa didapatkan dan dirasakan dengan penuh riang.
Bila saat ini Bapak serta mungkin orang tua yang seumuran dengannya lebih memilih menyaksikan hiburan di televisi, selain karena faktor gaptek (gagap teknologi) juga. Pasalnya kemarin sempat risau ketika semua televisi analog terputus alirannya (Jumat, 2/12/2022 pukul 00.00 WIB) dan mengharuskannya untuk membeli set box agar saluran televisi dapat kembali disaksikan di saat senggang.
Beda cerita dengan remaja sekarang, yang tidak terlalu risau karena dengan adanya smartphone apapun yang ingin disaksikan sudah dapat dinikmati, bahkan dalam keadaan rebahan. Tapi bila kita coba terbuka, ada hal menarik untuk dibuka dari kenangan Bapak.
Sewaktu Bapak masih remaja, di desa Kalibuntu ada tempat seperti bioskop yang menjadi hiburan. Masyarakat berangsur-angsur menyebutnya layar tancap. Film yang masih di kenang ialah film Rhoma Irama, kadang hiburan musik, kadang musik beserta ceritanya. Aku menangkapnya seni teater. Televisi masih hitam putih, tidak seindah saat ini. Rumah-rumah tak sepadat sekarang, tetapi orang-orang yang menyaksikannya sampai berada di luar ruangan.
Tempat bioskop itu kini hanya dapat dikenang bersama berjalannya waktu. Bila kamu ingin tahu di mana letaknya? Kamu bisa mengunjunginya di dusun Sambilangan yang kini sudah dipenuhi rumah-rumah.
Dengan seiring berjalannya waktu, masyarakat juga kemudian menyaksikan hiburan di luar desa. Mungkin bila ada yang masih ingat dengan tempat bioskop di daerah Kraksaan? Ya, di sana! Sebelum akhirnya juga dapat dikenang. Sebuah hiburan yang hanya dapat dikenang di waktu senggang seperti sekarang.
Kalibuntu, 8 Januari 2023
*)Emroni Sianturi, penulis buku kumcer yang berjudul Sebuah Pilihan (2022)

0 Komentar