SEBUAH KISAH: Kita Hampir Bahagia

(Ilustrasi: internet)

Dua hari menjelang kau kembali untuk mengabdi dan menimba ilmu di penjara suci. Di salah satu pondok pesantren terkemuka di kabupaten Probolinggo. Kita masih mesra seperti biasanya. Memberi kabar, berbagi cerita keseharian yang kadang tanpa temu, dan harapan-harapan menuju pintu kebahagiaan mulai kita susun sedemikian rupa.

Aku masih ingat, Alia, pintamu yang berulang kali mengingatkan, "iringi aku saat kembali ke pondok nanti". Itu tidak akan aku lupa, bahkan sampai sekarang. Karena di waktu itulah akan memberi tahu kesiapan kita pada keluargamu.

Dan keesokan harinya. Kita tiada berkabar. Pesan mesra ucapan selamat pagi, tertahan di ruang chat kita dengan tanda centang satu. Aku memahami kesibukanmu di hari itu dalam mempersiapkan sesuatu dan segala hal yang diperlukan. Tapi bila kau tahu, Alia, hatiku seperti ada yang terketuk. Aku menepisnya dan memutuskan setelah pulang kerja nanti akan membelikanmu suatu hadiah yang berarti.

Sampai senja kembali ke peraduan. Aku memastikan sekali lagi membuka beranda WhatApps dan coba berharap pada pesan selular yang mungkin datang di handphone.

Masih tak ada kabar darimu!

Waktu malampun ku biarkan pula berlalu seperti waktu pagi tadi. Kali ini, aku merasa tak seperti hari-hari yang lain saat tiada kabar darimu.

Itulah mengapa dengan keberanian aku datang ke rumahmu. Di hari yang kita rencanakan. Dan untuk pertama kalinya aku menciumi pundak telapak tangan seorang lelaki yang kelak juga akan kupanggil Ayah. Aku merasakan kehangatan dalam penerimaannya. Kita bercakap-cakap canggung dan mulai terbiasa. Sayangnya kamu tidak ada di sini.

Beruntung sejak awal aku mengaku sebagai teman kampusmu setelah di ujung percakapan dengan Ayahmu, beliau mendedahkan arti ketiadaanmu sejak kemarin. Kau disandingkan dengan salah satu santri yang mondok di pesantren tempatmu mengabdi. Aku sempat tak percaya menderngarnya, Alia. Tapi suara itu ku dengar dari Ayahmu.

Dalam perjalanan pulang dari rumahmu. Di hati kuseru namamu, Alia. Kata-kata pengharapan mulai berceceran di jalanan. Tanpa sadar, aku terus melaju mengendarai kendaraan. Aku tak tahu mau ke mana? 

Terus kupacu sepada motorku di jalan yang ramai tapi terasa lengang. Dengan sadar, aku tiba berada di suatu tempat pertama kali kita berpapasan pelan dalam ritme yang seakan berjam-jam. Kau berdiri menatapku di kejauhan. Aku tak percaya. Tapi bening airmatamu yang tiba jatuh dari kelopaknya saat hendak kuhampari adalah suatu bukti nyata bahwa kita hampir bahagia di dalam harapan yang sempat kita rencanakan bersama.

Di pertemuan ini kau tak mungkin akan lari, Alia. Sementara aku ingin beranjak pergi.

Kraksaan, 18 Mei 2023*


      *) Emroni Sianturi, kelahiran Probolinggo, Jawa Timur. Penulis bisa diajak collab melalui instagramnya @emroni_sianturi




Posting Komentar

0 Komentar