Cerpen - Kalibuntu, Aku dan Masa Silam

ilustrasi: @riskanurlailii
 

Mereka datang dan memberi penawaran, "Kali-baru". Tapi kami menolak dan teguh pada pendirian masa silam, "Kalibuntu".

Sekitar 50 tahunan, ketika itu kepala desa masih dipimpin oleh seorang tokoh yang dikenal pemberani, bertubuh kekar dan besar, dan julukan yang senantiasa melekat padanya hingga akhir hayat dan harum pada generasi-generasi mendatang, yang mungkin kamu dan aku sama tau. Dialah singa, dan dialah laut bagi desa.

 

AKU masih gadis, bisa dibilang gadis manis satu-satunya yang sekolah di taman siswa. Tak ada gadis lain dari desaku sesama itu. Sekolah yang teguh berdiri sejak Jepang menguasai kita. Aku masih ingat bayang-bayang itu, meskipun kadang waktu semakin hari semakin membuatku susah payah mengingat dengan sempurna kisah yang hampir menunggu waktu untuk menjadikannya sia-sia.

Rumahku yang tinggal kenangan bermukim di dusun Krajan paling Barat, di sana ada gudang besar yang menjadi peninggalan sejarah kita. Aku mungkin sedikit lupa nama awal dusun itu, tetapi sekarang kamu sudah tau dan mengenal nama dusun itu, bukan?. Di sanalah awal mulai aku lahir, dan menurut ingatanku yang mulai kacau, rumahku tinggal nama akibat air pasang yang tak terkendalikan.

Aku pindah dan bermukim yang mungkin hari ini kamu mengenalnya dengan nama dusun Durian. Mataku mulai mengabur. Pandanganku mulai tidak jelas menampakkan warna dunia. Tapi bila aku terkenang, rumahku sampai kini tetap seperti dulu, rumah peninggalan masa silam, dan kamu boleh menyebutnya rumah sisa kepingan sejarah.

Menjadi satu-satunya gadis dari desa yang sekolah di Taman Siswa. Setiap hari aku berangkat dengan berjalan kaki. Kamu bisa bayangkan lelah diawal yang aku rasakan. Dari desa Kalibuntu menuju, kalau hari ini disebut kota kecil Kraksaan atau lebih dikenal Kecamatan Kraksaan. Sekolahku ada di sana, dan kamu bisa mengenalnya hari ini, Taman Madya atau Taman Dewasa.

Beruntung, ketika itu aku sempat diasuh oleh orang baik saat aku mulai beranjak kelas empat. Aku tinggal di dekat sekolah, mungkin di sana asrama. Tapi yang jelas aku patut berterima kasih atas segala ilmu yang aku dapat, juga tempat tinggal sementara, dan menularkan kepada masyarakat di desaku untuk sekadar bisa baca koran, meski cukup sulit untuk menulis bagi mereka.

Bila terkenang, sebelum tinggal di asrama. Aku bersyukur ketika itu tak harus pulang berjalan kaki jauh kembali ke desa. Selalu saja ada bapak supir delman yang mengajakku untuk menumpang pulang, yang kadang berangkat pula. Bapak supir delman senantiasa pergi ke desa seberang mengantar pedagang ikan dari desa Kalibuntu yang kemudian mengulak buah, sayur, dan semacamnya yang diperlukan buat dagang lagi di desa.

Desa kita lekat dengan pesisir tapi kenapa nama desa kita Kalibuntu?

Aku masih ingat bayang-bayang itu. Masa silam dan kenangan miris ketika Belanda mulai mengambil alih dan bertahan. Pernikahanku yang dini. Suamiku yang gagah dibui. Ingatan yang terlalu lampau saat negara beranjak merdeka.

Kamu cukup beruntung bukan? Makanan dan segala pernak-pernik yang dihidangkan masa kini berlimpahan, meskipun ada tapinya. Sekolah berdiri di mana-mana. Ilmu dunia rasanya tak perlu dikejar ke Cina. Tapi sayang sebagai generasi kalian mengabaikan tuai dari masa silam.

Tapi mari kita kembali ke 50 tahun berlalu, masa di mana singa yang juga laut bagi desa jadi babat sejarah desa kita. Dialah pemimpin pertama desa. Dialah yang menurut ingatanku yang kacau paham pucuk dari sejarah desa. Aku hanya menceritakan sedikit kesempurnaan kisah yang masih kuingat tentang desa. Umurku sudah 80 tahunan, dan menceritakan masa silam? Mohon maaf bila tidak sesempurna yang kamu kira.

Nama Kalibuntu sudah lama tertancap di lubuk hati kami, bahkan sejak aku gadis, nama Kalibuntu sudah ada. Aku tak dapat menampik nama awal sebelum desa berdiri. Mungkin karena aku bukan penulis, apalagi gadis yang suka mencatat sejarah, mungkin aku jauh dari segala macam sebutan itu. Tapi bila kamu datang padaku, maka dengan senang hati akan aku ceritakan dari sedikit yang masih kuingat tentang desa kita.

Tapi kumohon jangan tanya perihal makna sesungguhnya dari Kalibuntu. Kamu bisa memahaminya dengan kali yang berarti sungai, dan buntu yang berarti tertutup. Jadi Kalibuntu banyak orang menyebutnya sungai yang tertutup alirannya atau sungai yang tertimbun tanah. Memang benar desa kita dialiri sungai dan tanah yang menimbun aliran sungai. Tetapi ingatanku tentang sungai mana yang alirannya tertutup, atau benarkah sungai yang ditimbun tanah adalah tempat makam itu? Aku mulai melupa, atau barangkali aku dapat mengingatnya sedikit demi sedikit. Karena sebagai gadis desa, kesempurnaan bagi kita adalah manut saja.

Setelah sungai ditimbun tanah atau ditutup alirannya dan membiarkan sungai hanya mengalir ke arah Barat dan tertutup ke arah Utara yang menurut ingatanku yang kacau adalah tempat makam itu. Maka berselang waktu mereka datang dan memberi penawaran nama bagi desa kita, tetapi kami serempak menolak dan teguh pada pendirian masa silam, "Kalibuntu" atau dalam bahasa Madura kita menyebutnya, "Ngaitopoh" nama yang masih dalam perbedatan.

Dari segala macam cerita yang kamu dengar. Barangkali cerita yang masih kuingat tentang desa bisa jadi bahan untuk menyempurnakan cerita masa silam yang mulai kacau dalam ingatanku. Tapi dari segala kejadian, aku tak pernah lupa kenangan yang paling berkesan dalam hidup. Aku masih mengingatnya meski tanpa perlu aku catat, seperti hari kelahiranku, tanggal pernikahanku dengan lelaki gagah itu, jumlah anakku, asal muasalku...

Masih kuingat kenangan itu, menjadi guru bagi ibu-ibu juga ibuku sendiri. Aku masih gadis waktu itu, dan untuk sebuah ijasah, tak ada! Jepang pergi dari negara dan ijasah bagi kelulusanku tak ada. Tak ada yang mengurusnya. Aku terpaksa berhenti di kelas enam akhir, bahkan suamiku yang seorang guru waktu itu belum sampai untuk itu. Guru dulu sempat hanya mengajar tanpa dibayar oleh kolonial Belanda.

Aku sudah renta anakku, dan kamu datang untuk mencatat kepingan sejarah itu. Mungkin hanya itu yang dapat aku bagi padamu. Itulah hikayat hidupku sejak lahir dan tinggal di desa kita ini.

 

AKU pulang membawa sepersekian kisah rekaman suara yang aku rekam dari suaranya yang masih merdu dan sesekali melemah. Bertemu nenek dari kawanku, pikiranku ditumbuhi segala macam duga dan kira tentang desa. Hadiah dari buah pertemuanku dengan nenek itu adalah pengabaian kita.

Hari ini aku mulai menuliskannya dalam bentuk cerita dan mungkin menjalar ke sajak. Rasanya tak cukup dengan ditemani kopi paling pahit yang pernah kubuat, mungkin dengan kembali kutuang anggur merah yang kusimpan di lemari rahasiaku, dapat membuat malam lebih terjaga dan membara. Dan kuratap gelas kaca di samping tempatku menulis – sudah kosong isinya, dan Kalibuntu masih ambigu.

 

Kalibuntu, 05 Agustus 2020*

 

(*)Penulis Emroni Sianturi. Buku kumpulan cerpennya berjudul, Sebuah Pilihan (2022) 

Posting Komentar

0 Komentar