STORI BAPAK: Karakteristik Masyarakat Kalibuntu

Ilustrasi: @ootczproduction (IG)

Saat menulis catatan ini, aku tidak bermaksud untuk membawamu berkunjung ke tempat yang ku akrabi sejak kecil, pun tidak bermaksud membuat kamu yang pernah singgah ke tempat yang mayoritas penduduknya nelayan nantinya menjadi lebih berhati-hati setelah membaca ini.

Tapi perlu kita sepakati lebih dulu, bahwa setiap daerah pada dasarnya memiliki keistimewaan tersendiri, bukan? Karena dengan adanya keistimewaan itulah yang akan membuat setiap daerah memiliki jiwanya sendiri.

Aku lahir dan tumbuh di desa yang konon namanya tercipta dari sungai yang tertimbun oleh tanah, yaitu desa Kalibuntu atau Ngaitopoh dalam bahasa Madura. Meski lahir dan tumbuh di Kalibuntu, aku kerap kali dipertanyakan asalnya? bukan hanya sekali-dua kali! Sejak usia Sekolah Dasar, bahkan mungkin hingga saat ini! Semacam menjadi orang asing yang singgah untuk berkunjung ke rumah saudaranya; lantaran logat bicara dan sikapku dalam menyapa; tidak sama pada remaja di desa pada umumnya.

Dari kejanggalan yang dialami, aku sampai mengadu percakapan dengan Bapak. Mempertanyakan asal muasalnya? Dari kakek dan nenek, juga asal ibuku; tak lupa ku sodorkan pertanyaan pada beliau.

Dan hasilnya? Nanti kamu akan tahu setelah menamatkan bacaan ini.

Masyarakat Kalibuntu memiliki ciri khas bicara yang kentara sekali dari desa-desa sekitarnya. Meskipun memakai bahasa Madura yang sama, orang-orang sudah dapat mengenalinya bahwa seseorang itu berasal dari Kalibuntu. Suara yang lebih lantang dan percaya diri.

Kamu jangan heran bila berkawan dengan masyarakat Kalibuntu mendapatinya menyapamu di jalan-jalan atau dimanapun dengan nada seperti orang sedang berteriak. Atau pada nada percakapannya? Mungkin akan ada yang beranggapan, memang "wong deso!", tapi inilah karakter yang kuat yang dimiliki masyarakat Kalibuntu.

Tidak hanya pada sapaannya yang khas, masyarakat Kalibuntu juga dikenal dengan keramah-tamahannya pada orang-orang yang datang. Hal ini aku buktikan sendiri lewat seorang teman, juga orang-orang tua yang aku temui di luar desa Kalibuntu. Bahkan mereka menambahkan soal kekompakkan masyarakat Kalibuntu dalam berbagai aspek hubungan antar sosial.

Dari situlah wajah masyarakat Kalibuntu dikenal. Wajah masyarakat pesisir yang setiap waktu ke waktu ingin lebih maju. Seperti aku dan mungkin yang lainnya pernah merasakan hal yang serupa dalam pegenalan.

Dan.., adakah dari KAMU yang ingin menambahkan? Bila nantinya ada tutur kata yang kurang berkenan?!

Kalibuntu, 12 Juni 2023*


      *)Emroni Sianturi. Kelahiran Probolinggo, Jawa Timur. Bukunya yang terbit kumpulan cerpen yang berjudul, Sebuah Pilihan (2022)



Posting Komentar

0 Komentar