SEBUAH KISAH: Amor Trikona

Ilustrasi: Internet

AKU tidak mengerti apa yang Luna katakan. Aku butuh jawaban dari hadiah berbentuk hati yang kuserahkan padanya. Matanya mulai berkaca-kaca lalu terpaksa mematahkan hadiah yang kuberikan. Sementara di luar halaman rumah, Rachel setia di dalam mobil yang masih menyala dan mulai bersuara bising.

Luna melangkah menuju pintu rumahnya. Aku memperhatikannya sembari mengemas potongan hadiah yang berbentuk hati itu. Kemudian Rachel memacu mobil yang dikendarainya dengan begitu cepat dan coba menghantamku. Aku berlari, terus berlari menghindarinya.

Setelah itu cerita dilanjutkan oleh Pooja yang terpaksa menyimpan perasaannya. Aku pun tidak mengerti, mengapa perempuan mampu serela itu membiarkan seseorang yang diimpikannya dapat berbahagia demi sahabatnya. Sampai-sampai Tina menyadari lalu mempertemukan kita bertiga di sebuah kafe di pinggir jalan dan memberi sebuah pertanyaan.

"Bila mendapati sahabat dan kekasih berada di satu tempat yang sama, kemudian sebuah bencana menghantam keduanya. Siapa yang akan kamu selamatkan lebih dulu. Cinta atau sahabat?"

AKU tidak mengerti, mengapa kamu tiba-tiba datang kembali setelah tahun-tahun kenangan mulai berlalu. Seakan-akan waktu telah membawamu pergi jauh dan kita tidak akan bertemu lagi.

Rupanya dunia tidak begitu luas bagi sebuah hubungan. Melalui media sosial, kamu menyapa dengan kabar baik. Dan aku menyambutmu bersama hadirnya dugaan masa lalu.

Kita mulai akrab kembali dalam menuai kabar. Entah pagi atau malam melalui telepon genggam kita bercakap-cakap panjang ke arah yang dirindukan.

Pada akhirnya aku mulai mengerti, mengapa perempuan terpaksa menolak cinta seperti yang dilakukan Luna dalam film My Heart, atau seperti Pooja di Mujhse Dosti Karoge untuk menjaga perasaan sahabatnya.

Aku masih menggenggam telepon genggam sehabis bercakap-cakap denganmu. Tiba-tiba di layar menampilkan satu nama lain memanggil kesadaranku. Aku hanya meratapinya. Telepon dari perempuan yang juga hadir di dalam hubungan kita pada masa itu.

15 Juni 2023*


      *) Emroni Sianturi, kelahiran Probolinggo, Jawa Timur. Penulis bisa diajak collab melalui instagramnya @emroni_sianturi




Posting Komentar

0 Komentar