SAUDARA-saudara boleh sekali beranggapan tulisan ini cuma asal-asalan dalam mendedahkan asal-usul petik laut di desa Kalibuntu. Pasalnya sejauh ini, belum ada yang memberi gambaran pasti mengenai kejadian itu.
Sejauh yang kita tahu, Petik laut adalah sebuah upacara adat atau ritual sebagai rasa syukur kepada Tuhan, dan untuk memohon berkah rezeki dan keselamatan yang dilakukan oleh para nelayan. Umumnya, kegiatan ini diadakan di seluruh pulau Jawa.
Dan ritualnya diawali pembuatan sesaji oleh sesepuh nelayan. Kemudian perahu kecil (perahu sesaji) disiapkan dan dibuat seindah mungkin mirip kapal nelayan yang biasa digunakan melaut, kemudian sesaji tersebut di hanyutkan ke laut.
Dalam upacara petik laut para nelayan menghias perahu seindah mungkin, selain itu berbagai perayaan-perayaan yang dilaksanakan seperti halnya mengadakan pengajian, orkes dangdut, dan sebagainya sesuai keinginan para nelayan di masing-masing daerah.[1]
Dari asal-asalan itulah, saya coba memulai obrolan dengan beberapa Bapak-bapak di desa. Jawaban dari mereka cukup beragam, meski pada akhirnya tetap satu kesatuan.
Salah seorang Bapak menuturkan, jauh sebelum saya lahir, di perayaan petik laut pernah terdapat Ancak saji[2] di tiap-tiap pinggir pantai. Selain Ancak, juga terdapat berbagai jenis makanan yang terhampar di sejumlah tepi pantai untuk dihidangkan kepada masyarakat. Kemudian berbondong-bondong masyarakat mengambilnya dengan saling berebutan.
Tayub atau rukun karya masih belum ada, adanya orkes dangdut sederhana yang menghibur pada waktu itu.[3] Dan yang pasti ada, yaitu sebuah zikir syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa melalui istighosah bersama.
Dan tak ketinggalan saat mengarak Bhitek yang berisi sesaji seperti yang pernah kita lihat sejauh ini, biasanya diiringi oleh beberapa orang tua dengan melantunkan kidung pujian. Mungkin masyarakat desa yang berusia sepuh masih ingat dengan lirik-liriknya, dan yang saya tangkap kemungkinan kidung ela ela dari Budaya Jawa. Konon katanya, masyarakat yang melantunkan kidung tersebut ada yang kesurupan.
Sementara untuk mengetahui kapan dan bagaimana awal mula Petik Laut dilestarikan di desa Kalibuntu? Kurang lebih kita akan menuai jawaban yang sama dari generasi sesepuh desa yang masih hidup saat ini. Petik Laut sudah ada sejak mereka kecil, sama seperti waktu saya kecil, itu sudah ada jauh sekali. Dan masyarakat berupaya melestarikannya sampai detik ini dengan adanya perubahan pada generasi selanjutnya. Bisa kita cermati dari 10 tahun ke belakang sejak tahun 2022.
Maka dari itu, boleh sekali beranggapan tulisan ini asal-asalan yang perlu disempurnakan. Barangkali nantinya akan ada saudara-saudara di desa yang belum saya sambangi setelah membaca tulisan ini mengetahui banyak hal soal asal-usul Petik Laut di desa Kalibuntu. Yuk, mari kita jahit bersama potongan-potongan budaya lokal itu?!
Kalibuntu, 18 Juni 2023*
CATATAN
- Ancak saji adalah tempat sesajen yang terbuat dari bambu. Di bagian atas seumpama nampan untuk ditaruh makanan sesaji dan di bawahnya cukup selonjor bambu berukuran sekitar 2 meteran untuk ditancapkan di pinggir pantai di desa Kalibuntu.
- Sumber tulisan Wikipedia
- Sekitar tahun 70.an


0 Komentar