Udara terasa sejuk pagi ini. Angin berembus pelan, suara kendaran yang tak begitu membisingkan telinga. Di kota kecil, saya menepi di lingkaran mulut alun-alun setelah memarkirkan sepeda pancal yang sedari tadi dibawa berkeliling; dari desa ke desa bersama satu kawan karib yang kemudian asyik dengan telepon genggamnnya.
Lamat-lamat...
Setiap kali bila bertemu dengan wanita berkacamata dan berhijap penampilannya. Selalu terbayang kenangan yang hampir dua tahun silam. Bermula dari seorang Bapak yang berusia paruh baya, ingin meminangkan ipar sepupunya dengan saya.
Namun, apalah daya, saya ini hanya pemuda tamatan Sekolah Menengah Akhir (SMA) dipersandingkan dengan seorang sarjana, berharta, dan berkedudukan. Saya tau diri, saya dari orang kecil, kerja saya hanya nguli, dan modal saya hanya akhlak; akhlaqulil banin.
Bagaimana mungkin seorang sarjana, anak dari orang terpandang merelakan putrinya dengan mudah dipinang oleh remaja tamatan SMA yang kerjanya hanya nguli?
Tapi kenyataanya benar demikian. Orang tuanya, bahkan Kakek dan Neneknya menyambut baik kedatangan saya yang hanya memakai baju kusut dan celana lama. Dan memang benar, seperti yang dikatakan Bapak paruh baya yang membawa saya masuk ke gerbang cahaya.
"Kamu jangan khawatir, Nak. Kamu harus yakin. Percaya kepada Allah SWT. Insyaa Allah meski kamu dari orang kecil, pendidikannya lebih tinggi darimu, tetapi akhlak dan adabmu bagus ke sesama. Kamu sudah punya modal menyentuh hati. Aura kasih sepertimu sudah jarang sekarang, Nak. Tak usah merisau, mari kita masuk" teduhnya.
"Baik, Pak!" Langkah kaki saya melambat seperti seekor siput yang tertinggal oleh waktu. Tubuh saya meneteskan keringat dingin. Baru kali pertama saya pergi ke rumah seorang wanita dengan tujuan hendak meminangnya.
Saya jawat tangan Ayah dari wanita yang hendak saya pinang seperti menjawat tangan orang tuaku sendiri. Ketika kata salam saling beradu, senyumpun mengembang pada hati yang sedang ditawan.
"Mari duduk, Nak." ajakannya sembari merangkul bahu saya. Saya hanya membalasnya dengan senyum dan anggukkan.
Di dalam ruangan yang sangat luas bagi saya. Kami hanya bertiga. Ayah dari wanita, dan Bapak Asib yang tak lain ipar sepupu dari wanita yang membawa saya sampai ke gerbang ini. Sedang ibu dan wanita yang hendak saya pinang, bersembunyi dibalik sebuah tirai. Dan, kata-kata akhirnya bergelayut di kepala saya. Lidah saya terasa kelu ingin memulai hasrat saya.
"Asmamu siapa, Nak?" Pertanyaannya spontan tapi nyatanya terdengar seperti sedang ditodong preman kelas kakap di tempat sepi.
"Ahmad Irsan, Pak!" jawab saya dengan mantap, juga tanggal lahir saya, tempat tinggal saya, dan nama orang tua saya. Membalas setiap pertanyaan dari Ayah wanita tersebut.
"Berapa saudara kamu, Nak?" lanjutnya.
"Tiga, Pak. Dengan Kakak dan Adik yang masih kecil" kembali saya balas pertanyaannya dengan lebih terbuka.
"Pendidikan terakhirmu apa, Nak?"
Deg, deg, deg...
Sampailah pada pertanyaan yang membuat keringat dingin saya kembali berjatuhan. Memandangi wajah Ayah dari wanita itu yang tak lain adalah bapak Rahmat, lalu kembali saya meneduhkan pandangan saya.
Di sini saya merasa sadar. Siapa saya! Saya dari orang kecil, pendidikan hanya sampai SMA. Bukan di tempat negeri tapi swasta kecil. Sedang anak yang ingin saya pinang adalah sarjana lulusan negeri ternama, bahkan orang tuanya berharta dan berkedudukan.
"Sa...mpai SMA, Pak!" jawab saya.
Tak lama kemudian, saat waktu senantiasa terpotong angkanya. Datanglah lelaki berusia senja bersama istrinya. Tapi, istrinya memilih masuk lewat pintu belakang. Pelan-pelan langkahan kaki lelaki tua itu menuju ruangan. Kami pun berdiri menyambut beliau.
Tiba-tiba Bapak Asib mendekatkan kepalanya ke wajah saya dan berbisik.
"Beliau adalah Kakek dari wanita yang akan kamu pinang, Nak!"
Mendengarnya, saya hanya membalas dengan anggukan. Ludah yang saya telan tiba terasa berat sekali.
Ketika saya jawat tangan lelaki tua itu. Tangan saya terasa dingin. Saya perhatikan wajahnya sepintas seperti memancar cahaya, meski hanya sependar. Senyum yang ia suguhkan begitu ikhlas terasa.
"Dari mana asalmu, Nak?" ujarnya, membuka percakapan yang tersekat oleh diam.
"Asal desa Kalibuntu, Pak. Kraksaan." imbuh saya, khawatir tidak tau tentang desa saya. Tapi, nyatanya tidak, bahkan beliau dulunya lumayan sering bersilaturahim ke desa saya. Dan secara tiba, saya termangu menatap beliau atas pertanyaannya. Sekejap, lalu meneduhkan pandangan saya. Pertanyaan beliau begitu ngena ke jantung permasalahan.
"Kenapa tidak kamu ajak orang tuamu, Nak?" sambungnya. Belum sempat saya membalas pertanyaannya. Beliau kembali berterus-terang.
"Kami akan tambah senang dengan kehadiran salah satu orang tuamu, Nak. Tapi, tidak apa sudah, toh sudah telanjur kemari kan?" lanjutnya, dengan diakhiri senyuman ikhlasnya.
"Yuk, pulang!!" serunya sembari menepuk pundak saya.
Kenangan yang baru saja saya lamunkan, memudar tiba-tiba dan nyaris hilang seketika. Hanya menyisakan rasa yang entah seperti tak dapat dijelaskan dengan suatu ungkapan kata.
Saya berdiri dan melangkah dengan berat. Kembali saya bawa: raga saya, perasaan saya, sisa-sisa angan saya, dan mengulang bersepeda ke jalanan lagi.
Kalibuntu, 2018 – Juli 2019(*)
CATATAN
1. Bayang-bayang Dua Tahun Silam pernah di terbitkan di media cetak Padang Express pada tahun 2019. Dan kali ini, kembali diunggah dengan lebih fresh lagi di blog Ngala' Oca' pada kolom Ngancani.
*) Emroni Sianturi, kelahiran Probolinggo, Jawa Timur. Penulis bisa diajak collab melalui instagramnya @emroni_sianturi


0 Komentar