STORI BAPAK: Mengapa Masyarakat Kalibuntu Berbahasa Madura?

 

Ilustrasi gambar: Internet

Pertanyaan itu hadir setelah saya mulai lancar berbahasa Indonesia, saat mulai mengenal ilmu-ilmu pengetahuan di sekolah. Dan pertanyaan itu tidak hanya saya pantulkan pada diri sendiri, lebih dari itu saya hidangkan pada orang tua, teman sebaya, bahkan pada Bapak-bapak yang saya kenali.

"Mengapa masyarakat Kalibuntu berbahasa Madura?"

Kalau tidak salah ingat pada waktu itu, hanya meneruskan yang disampaikan Bapak saya. Konon katanya masyarakat Kalibuntu berasal dari pulau garam. Dan perihal bahasa, itu hal wajar karena mayoritas masyarakat Kalibuntu semuanya berasal dari Madura. Seperti orang tua dari kakek saya, kata Bapak berasal dari sana. Saya mengiyakan pada waktu itu, sebelum pada akhirnya saya kembali dengan imbuhan pertanyaan lagi.

"Bukankah desa Kalibuntu berada di tanah Jawa? Seperti yang dikatakan orang-orang Madura bila berkunjung ke Kalibuntu? Mengapa bahasa daerah masyarakat Kalibuntu berbahasa Madura? Kenapa tidak berbahasa Jawa?"

Kamu mungkin pernah mendengar ucapan yang berbunyi, "Bedeh neng jebeh." Kira-kira begitu orang-orang dari pulau garam yang pernah singgah menyimpulkan desa Kalibuntu, yaitu tanah Jawa (Jawa bagian timur).

Dan rasanya kita tidak perlu lagi mendengar jawaban dari Bapak saya setelah mendapat imbuhan pertanyaan dari saya. Karena jawaban berikutnya hampir serupa dengan jawaban Bapak-bapak yang saya temui ketika dihidangkan pertanyaan yang sama.

Pertanyaan yang sudah lama sekali saya hidangkan kepada Bapak saya, kembali saya hidangkan kepada saudara-saudara di desa Kalibuntu.

"Mengapa kita berbahasa Madura?"

Ya, barangkali terasa aneh. Tapi beginilah asal-muasal masyarakat Kalibuntu berbahasa Madura, yang mungkin serupa dengan tempat-tempat lain di tanah Jawa yang kesehariannya memakai bahasa Madura. Karena mereka yang menghuni itu berasal dari suku Madura yang dibawa menjadi buruh petani kopi, tebu dll di tanah Jawa (Daerah Tapal Kuda). Kemudian beranak-pinak dan lambat laun lahirlah bahasa pandhalungan di desa-desa seperti yang kita tempati.

Kalibuntu, 10 Juli 2023*


CATATAN
1. Bedeh neng jebeh = ada di Jawa
2. Artikel - Budaya Madoereezen Pekerja Perkebunan Kopi Java Oosthoek

      *) Emroni Sianturi, kelahiran Probolinggo, Jawa Timur. Penulis bisa diajak collab melalui akun instagramnya: @emroni_sianturi.

Posting Komentar

0 Komentar