Semburat warna jingga di langit barat. Sekawanan bangau satu persatu menggiring senja kembali keperaduan, berbaris nyaris sejajar garis horinzontal. Sementara dari arah yang biasa kita kenang, anak-anak kecil, serta sejumlah santri menuju rumah Tuhan. Kemudian terdengar suara adzan yang terdengar lebih paripurna dari biasanya.
Di serambi rumah Tuhan, seorang lelaki duduk menyendiri melamunkan hal baik. Baru kali pertama sang guru meminta menggantikannya mengisi kajian tafsir kitab. Dan seperti ketiban berkah dari Tuhan, sekali jatuh, sang penghamba menerima dengan suka cita.
Masih terngiang bayang-bayang perempuan itu. Tatapan mata yang terpaku pada satu titik temu. Di mana hal yang tak sengaja jauh lebih mengesankan. Di balik tabir yang memberi sekat antara perempuan dan lelaki, di sanalah lelaki yang kini termenung melamunkan hal baik, mengenal perempuan yang kini ditasbihkannya dalam hati.
Perempuan itu ia sapa dengan nama “Um”, meskipun ada lima belas huruf dibalik nama indahnya, bahkan ia gilai “Um” sebagaimana Gus Afif menggilai Ayna. Ah, kisah cinta yang kadang membawa pengaruh baik bagi cinta itu sendiri, pun sebaliknya berpengaruh buruk bagi cinta itu sendiri, tinggal bagaimanya mereka dapat membangun istana bagi cinta yang datang tanpa pernah kita undang sebelumnya.
Suara iqamat dari salah satu santri senior, dan tepukan lembut di pundak yang lemah membuyarkan lamunannya. Dengan langkah yang amat berat, lelaki itu membopong dua pasang kakinya masuk ke dalam barisan yang penuh cinta kasih.
***
Tahun yang cukup singkat, setahun berlalu. Kata-kata telah beranak-pinak, mengembara, berteduh di rindang hati, serta mencari tempat seperti rumah mistis puisi, rumah sederhana prosa, bahkan di rumah terpencil yang menampung segala kata, ia singgah, telelap dan terjaga.
Di madding tempat yang biasa perempuan yang ia sapa “Um” itu lewat, dan mencari hal baik tentang informasi terkini. Di lantai dua Sekolah Tinggi Nurul Jadid yang kini jadi Universitas Nurul Jadid. Di sanalah kata-kata semakin berkembang biak dan membangun rumah puisinya.
Um yang awalnya tak sengaja membaca puisi itu, tertarik untuk membacanya berulang-ulang. Semakin berlalu waktu, semakin ia mengerti. Kata-kata yang bermakna letupan rasa tengah mencari tempat yang sebenarnya, tempat yang begitu mistis sekali. Tempat itu sungguh dekat. Namun, siapa yang sangka pintu yang senantiasa terbuka itu telah diberi papan penanda. Terbaca dengan jelas oleh lelaki itu yang sejak berbulan lalu terus mencoba bertamu ke hatinya.
Barang siapa yang ingin masuk ke istana hati, wajib baginya menjaga mata, menjaga telinga, serta menjaga hati dari segala hal yang merugikan diri.
Percakapan yang tak pernah usai, berulang-ulang, berkali-kali jari-jemari mengetik-ngetik isi hati. Suara yang keluar menerobos kerongkongan, melompati bibir lelaki itu kian melepuh, airmata yang tiba terjatuh seakan belumlah cukup. Meskipun jarak antara mereka berdua hanya Tuhan Yang Maha Tahu. Sepucuk pesan tersampaikan lewat telepon genggam yang mengedipkan lampu depannya yang kecil yang nyaris seperti usaha terakhirnya.
“Maka izinkan aku mencintai bayangmu” tandas lelaki itu.
Perempuan yang biasa ia sapa “Um” akhirnya mencoba mengasuh satu anak puisinya. Meskipun ia sadar, sungguh mustahil baginya merawatnya dengan cukup baik. Dan pesan mistis yang Um sampaikan lewat telepon genggam milik Ayahnya sebagai penanda kesungguhannya, serta doa-doa kerap ia tengahkan sebagaimana yang ia yakini perihal garis tangan
Um meyakini bahwa jodoh di tangan Tuhan, sedang di tangan penghamba adalah usaha dan doa-doa masa silam.
***
Udara berembus dari segala arah, berdesir-desir menyapa tubuh, dan menelusup ke jantung. Jantung mendenyut-denyut sisa tenaga. Tubuh yang lemah semakin lemah. Lelaki itu bertarung dengan sangat hebat melawan bayang-bayangnya sendiri. Semakin ia melawan, semakin ia terjatuh ke dalam dunianya sendiri.
Lelaki itu membungkuk, kadang terkapar seperti habis dikeroyok, kadang terjaga tapi pikiriannya ke mana-mana. Darah yang mengalir, jantung yang mendenyut-denyut sisa tenaga. Tak ada luka lebam, tersayat pisau, atau semacamnya di seluruh tubuh. Namun, dibalik jemarinya yang mulai membeku tiba menyembur darah rindu yang ia kupas dari satu jari ke jari selanjunya. Seakan kentara sekali, taring di giginya. Bibir yang kian melepuh berlumur darah rindu.
Meskipun jarak antara mereka berdua hanya Tuhan Yang Maha Tahu. Sepucuk pesan ia simpan dalam-dalam.
Jaga mata, jaga telinga, serta jaga hati dari segala hal yang merugikan diri.
Lelaki itu kian tenggelam ke dalam dunianya sendiri, dan mengupas lembut jemarinya seperti mengupas buah kesukaan kekasihnya—dengan taringnya! Dan mengalirlah darah rindu yang memabukkan.
Paiton, 06/12/19 - 2/11/20
*) Emroni Sianturi, kelahiran Probolinggo, Jawa Timur. Penulis bisa diajak collab melalui instagramnya @emroni_sianturi

0 Komentar