STORI BAPAK: Terledeng dan Pasar Malam

 

Ilustrasi gambar: Internet

Mungkin nama "terledeng" terasa asing bagi mereka yang lahir di tahun 90.an, apalagi kelahiran 2000.an; rasanya hampir tidak ada yang tahu bahwa di desa Kalibuntu dulunya ada tempat yang akrab disebut terledeng.

Sebuah tempat yang lumayan luas yang berada di timur pemakaman umum desa Kalibuntu, atau di sebelah barat SD Kalibuntu 2 berdiri besi penyangga yang mengerucut ke atas. Kurang lebih benda itu mirip seperti tower listrik yang biasa kita lihat di tempat-tempat lain.

Saat ngobrol dengan Bapak, awalnya saya mengira bahwa terledeng adalah nama tempat yang lumayan luas itu. Tapi ternyata terledeng, atau air ledeng, atau nama yang pas ialah menara air yang bila diartikan menurut wikipedia adalah sebuah kontainer penyimpanan air besar yang ditinggikan yang dibangun untuk menampung persediaan air pada tinggi yang cukup untuk memberi tekanan pada sistem distribusi air. Sedangkan ledeng sendiri berasal dari Bahasa Belanda, yaitu leiding yang berarti saluran.

Ada yang menarik untuk dibahas dari terledeng ini. Selain menjadi tempat bagi masyarakat untuk mendapatkan air bersih, di sana terdapat halaman yang lumayan luas. Menurut Bapak dengan ingatan masa silamnya, tempat itu menjadi tempat hiburan bagi masyarakat Kalibuntu. Dan yang masih membekas dalam ingatan masyarakat yaitu pasar malamnya.

Mendengar kata pasar malam, saya jadi teringat dengan acara yang saat ini ramai diperbincangkan oleh masyarakat Kalibuntu. Acara selamatan desa yang diusung masyarakat bersama aparatur desa. Sebuah acara yang dinanti-nantikan karena selamatan desa kali ini terdapat pasar malam dan kemeriahan lainnya.

Bila dulu pasar malam diadakan di tempat terledeng, di timurnya pemakaman umum. Kali ini berbeda, pasar malamnya berada di area dalam pemakaman. Sontak masyarakat yang menyaksikan kegiatan tersebut menyebutkan pasar malam saat ini dengan sebutan sar malam pocong.

Ya, ada-ada saja. Setiap manusia dapat mengumpat selayaknya, bukan? Toh cuma umpatan saja. Tapi mari kita singkirkan itu dengan tulisan ini yang mengajak masyarakat Kalibuntu untuk kembali mengenang "terledeng" atau mengajak KAMU bila ingin tahu tempat terledeng yang kini hanya menyisakan kepingan sejarah serta didiami batu nisan dan rumah-rumah.

Kalibuntu, 20 Juli 2023*


     *) Emroni Sianturi, kelahiran Probolinggo, Jawa Timur. Penulis bisa diajak collab melalui instagramnya @emroni_sianturi

Posting Komentar

0 Komentar