"Kami tidak akan lari; kami akan dikubur di tanah ini. Tidak ada super power selain Allah, dan kami tidak takut kepada siapa pun kecuali Allah". Begitu petikan nyala semangat yang Ayatollah Ali Khameni sampaikan kepada khalayak ramai sebelum berita mengenai beliau wafat akibat insiden yang terjadi pada 28 Februari 2026 kemarin.
Di sini saya tidak akan mendedahkan bagaimana terjadinya insiden duka yang menimpa negara Iran atas wafatnya sang pemimpin agung. Tapi saya akan mencatat nyala semangat juang dari jejak perjalanannya. Siapa sebenarnya ayatollah Ali Khamenei?
Ayatollah Ali Khamenei atau Ali Hosseini Khamenei adalah seorang politikus dan ulama Syiah Iran yang menjabat sebagai pemimpin tertinggi Iran dari tahun 1989 hingga pembunuhannya pada tahun 2026. Sebelumnya, ia menjabat sebagai presiden Iran dari tahun 1981 hingga 1989. Masa jabatannya sebagai pemimpin tertinggi, yang berlangsung selama 36 tahun enam bulan, menjadikannya kepala negara dengan masa jabatan terlama di Timur Tengah pada saat kematiannya dan pemimpin Iran dengan masa jabatan terlama sejak Mohammad Reza Pahlavi.
Khamenei masuk seminari setelah menyelesaikan pendidikan dasarnya. Ia melanjutkan pendidikan klasikalnya hingga tahun kedua sekolah menengah atas. Ia menerima pendidikan seminari di seminari Masyhad, Najaf dan Qom. Saat remaja, Khamenei berkenalan dengan Navvab Safavi, pendiri dan pemimpin komunitas Fedaiyan Islam. Menurutnya, Navvab Safavi menciptakan percikan pertama motivasi revolusioner Islam dalam dirinya.
Pada 1976, ia bertemu dengan Ruhollah Khomeini. Bertemu dan bertemu Khomeini memperkuat semangat revolusioner Khamenei. Sejalan dengan tujuan gerakan Khomeini, ia melanjutkan aktivitasnya melawan Dinasti Pahlavi, dan selama perjuangan ini, pemerintah Pahlavi menangkapnya enam kali. Pada tahun 1977, Gendarmerie mengasingkannya ke Iransyahr selama tiga tahun, ia kembali ke Teheran pada tahun 1978, pada puncak protes rakyat.
Setelah Revolusi Iran tahun 1978, Khamenei menjadi anggota Dewan Revolusi, Imam Salat Jumat Teheran, dan Wakil Menteri Pertahanan. Setelah itu, ia menjadi wakil Teheran di Majelis Permusyawaratan Islam untuk satu periode dan Presiden Iran untuk dua periode. Setelah revolusi Iran menggulingkan Shah, dia menjadi target percobaan pembunuhan pada Juni 1981 yang melumpuhkan lengan kanannya.
Khamenei adalah salah satu pemimpin Iran selama Perang Iran-Irak pada 1980-an, dan mengembangkan hubungan dekat dengan Pengawal Revolusi. Khamenei juga dianggap oleh seluruh warga Iran sebagai musuh bebuyutan rakyat Iran dan dalang di balik terorisme internasional serta penjahat terhadap kemanusiaan.
Setelah kematian Ruhollah Khomeini pada tahun 1989, Majelis Ahli memilihnya sebagai pemimpin kedua Iran. Sejak 1973, ia telah diumumkan sebagai salah satu Marja Syiah yang diterima oleh komunitas guru seminari Qom. Majalah Forbes menempatkan Khamenei ke-18 dalam daftar orang paling berkuasa di dunia pada tahun 2015 (wikipedia).
Barangkali hanya itu dari sedikit yang saya kutip dari situs website tentang Ali Khamenei. Dan sebagai penutup, alangkah megahnya bila ditutup dengan kutipan dari beliau pula.
"Jika umat manusia sungguh-sungguh berusaha memperbaiki kesalahan dan kerusakan, Tuhan akan membukakan jalan bagi mereka dan mereka akan ditakdirkan untuk kebaikan".
Kraksaan, 2 Maret 2026*
(*) Emroni Sianturi, Penulis Buku Sebuah Pilihan (2021)
0 Komentar