Pulang 1
aku mengetuk pintu tak terketahui,
pelayaran telah cukup, rel itu melintas tangan batu-batu
menggelinding di atas parang—memecah, menuju rumahmu
di antara gedung-gedung tinggi, belantara tahun-tahun
bising jalanan, trotoar yang menyebar
karang yang membentuk jiwaku, jauh lampaui kekukuhan
hingga langit memanggilku kembali
bukan keinginan terdalam, namun kehendak yang harus diluncurkan
berlabuh dalam pintumu terdalam, mengenali bahasa ibu
sekali lagi, bersepakat pada kotak-kotak ingatan
merapikan gambar-gambar masa lalu, lantas membongkar sunyi
dan peta kalbu kotamu
2018-2019
Pulang 2
bukan kotak upeti yang menyelamatkanmu,
abstraksi-abstraksi alam, mimpi paling mawar
dan mitos-mitos itu terus menari, duri, sunyaruri,
bergeming, menyentuh kuarsa paling akal—dewa-dewa
jiwa arif, mulia
untuk cita-cita pikirmu, engkau membutuhkan
ombak besar, yang senantiasa berkobar, menggelindingkanmu
ke rawa-rawa lebat, hutan-hutan gelap,
membangun kembali kontruksi
kebisuan, lekang dimakan zaman
musik itu terus berputar, sementara engkau harus bertahan
dalam gelap dan senandung pekat, sendu tak hendak melucu
memegang erat
arus pikirmu—membentuk sungai-sungai batu
mengalirkannya sejauh dalam nestapa
jiwamu, bergembira terhaap usia-usia lekang,
panjang, makhluk-makhluknya selalu
2018-2019*
*) Pulang 1 dan Pulang 2 diambil dari buku kumpulan puisi yang berjudul, Semedi Goa
Puput Amiranti Nugrahaningrum. Berasal dari Blitar dan alumnus Sastra Inggris Unair yang karya puisinya telah dimuat di pelbagai media cetak, daring, dan radio. Pendiri Teater Lagung, Sanggar Sastra Dieng, dan Pereng Gunung. Buku puisi terbarunya Semedi Goa (Pemeral Edukatif, 2019)

1 Komentar
Keren
BalasHapus